Kamis, 18 September 2014

Irisan Tiga Hati




Anet melewati sosok jangkung itu dengan dada berdebar kencang. Tanpa menoleh lagi. Melirik saja tak sempat. Padahal banyak yang ingin dia Galih sepulang dari pendakian gunung gede. Tapi perasaan jengah mematikan keingintahuan itu. Atau karena Bella-kah penyebabnya?
                Bella? Anet membayangkan wajah hebatnya yang teramat cantik itu. Hampir setahun Bella mengharapkan ikatan kasih dari cowok itu. Tapi entah mengapa sepertinya Galih hanya menginginkan sebuah persahabatan yang manis. Cuma itu. Lebih tidak.
                Setelah agak jauh Anet baru berani menoleh. Galih rupanya sedang mengobrol dengan beberapa anak mesin. Dan kelihatannya asyik sekali. Apa cowok itu sedang menceritakan pengalaman pendakiannya? Atau tentang cewek-cewek angkatan ’94 yang memang manis-manis itu? Yang sedang asyik ngegosip dengan gaya lincah, sedap dipandang?
                Di halte Anet malah bengong.  Sudah dua bis kampus dia cuekin tanpa ada keinginan dia sedikit pun untuk pulang. Padahal tadi di jam terakhir dia ingin buru-buru pulang. Padahal tadi di jam terakhir dia ingin buru buru pulang. Lelah semalaman mengerjakan tugas gambar. Sedangkan Bella cuman masuk jam pertama dan kedua. Nyokapnya ngajak shopping ke Sogo. Daripada suntuk mendengarkan kuliah Pak Gabriel mendingan juga cuci mata. Kata Bella, lumayan suka dapat sepatu atau baju.
                Pertama Anet dengar nama Galih juga dari Bella. Galih itu sahabat Bella sejak kelas 1 SMA. Sejak dulu berambisi masuk Teknik UI. Makanya keduanya ngotot masuk Fisika dan dua tahun berturut-turut mereka sekalas. Sampai akhirnya mereka ikut UMPTN dan diterima di Teknik UI. Cuma lain jurusan. Bella lebih suka milih arsitektur karena dari kecil dia suka gambar dan Galih milih mesin karena sejak SMP dia suka bongkar pasang onderdil mobil.
“Net, gue punya problem nih. Lo mau denger kagak?” tanya Bella setelah setahun mereka bersahabat. Anet memandang wajah Bella yang cantik itu sambil mulutnya asyik mengunyah ayam bakar yang enak itu. Mereka sedang makan siang di sebuah restoran di Jalan Margonda Raya.
                “Ada apa, Bel, kok bingung banget?”
                “Lo kenal Galih, kan?”
                “Gue kayaknya suka banget nih ama dia. Gue baru sadarnya sih sejak gue kuliah. Tapi gue bingung. Lo kan tau sendiri selama ini gue Cuma nganggap Galih sahabat, tapi herannya gue kok sampai bisa naksir dia yah, Net?”
                “Gue rasa sih wajar aja kalo lo naksir dia. Bayangin aja sejak kelas 1 lo temenan ditambah lagi dua tahun lo sekelas dan bersahabat, jadi gak heran kalo rasa suka itu lama lama tumbuh. Lagian gue lihat galih itu anaknya oke. Terus keren lagi. Kapan dong lo kenalin ke gue?”
                “besok mau kan? Galih ngajakin ke AH Menteng, lo ikut aja yah, Net? Sekalian gue kenalin.”
                “Tapi...”
                “Pokoknya nggak ada tapi tapian!” Bella tersenyum bandel.
                Anet betul-betul terpana berkenalan dengan galih. Anaknya enak untuk dijadiin teman. Ngocol, tukang bercanda, ceritanya  banyak dan ramah. Tidak salah sih kalo bella naksir. Habis namanya galih memang keren anaknya.
                “Gimana, Net?” bisik bella begitu Galih permisi ke toilet.
                “Oke, bel. Gak sia sia lo naksir dia.” Bella nyengir.
                Selesai makan Bella asyik belanja ini itu. Dari sepatu, baju sampai aksesoris. Bella memang biang shopping tidak heran kalau waktu mereka habis tiga jam untuk nemenin Bella belanja di perpustakaan toko daerah Menteng.
                Yang bikin Anet kagum ternyata Galih begitu sabar. Biar kelihatan capek tapi dengan sabar. Biar kelihatan capek tapi dengan sabar Galih memberikan pendapatnya tentang barang barang yang akan diberi Bella.
                Bagi Anet sore itu adalah sore terindah dalam hidupnya. Dapat berkenalan dengan seorang cowok seperti Galih. Seperti dalam mimpi dia menemukan laki laki ideal dalam diri galih.

                “Ternyata Galih cuma nganggap gue sahabat biasa aja, Net. Udah beberapa kali gue kirim surat ngungkapin perasaan gue, tapi kata Galih dia gak bisa merubah perasaannya. Duuuuh, Net, gue sakit. Sakit banget! Sampe udah beberapa minggu ini gue menghindar dari galih. Gue udah terlanjur kecewa menurut lo gue salah nggak sih?”
                Anet dia. Dilemparkan pandangannya ke taman kampus. Perasaannya kini sama dengan Bella. Mengharapkan cinta Galih. Dan apakah cintanya akan sia-sia seperti bella?
                ”Net, lo kok jadi diam? Ngomong dong, Net.”
                “Sorry, Bel, gue lagi prihatin ama nasib lo. Menurut gue, yah udah lo lupain aja cinta galih. Biar cinta lo ditolak, bukan berarti persahabatan lo juga putus. Lo usahain deh hubungan lo baik lagi ama dia. Walaupun sulit, pelan pelan aja. Gue yakin lo pasti bisa.”
                “kayaknya gabisa deh, Net. Susah!” bella geleng geleng kepala. Lalu dia terdiam lama. Lamaaaa banget. Mungkin untuk mikirin semuanya.
                “tapiii.. yaaaah, kenapa gak gue coba?” wajah Bella yang cantik sudah agak bersinar lagi. Anet hanya tersenyu samar. Kembali sibuk memikirkan nasibnya.
                Seperti dalam mimpi Anet, tidak menyangka galih bakal datang ke rumahnya. Dengan hem polos biru langit dan jeansnya galih kelihatan begitu keren dimata anet.
                “Jalan yuk, Net. Minggu siang ini gak ada acara kemana mana kan?”
                “tapiii...” Anet bingung. Dia tidak menyangka sekali Galih bakal mengajaknya kencan. Mudah mudahan ini cuma kencan biasa saja. Dia tidak ingin menghianati Bella.
                “Bella gak diajak?” tanya anet setelah siap.
                “Gue cuman mau berdua ama kamu ko. Keberatan?” Galih menatapnya dalam. Anet salah tingkah. Dimainkannya tali tas mungilnya dengan wajah menunjuk. Tidak berani membalas tatapan itu.
                “Atau ada yang akan marah ya, Net?” kalau tidak ada Bella, Anet bakal menggeleng kuat kuat. Tapi bagai mana dengan Bella? Gadis itu masih dalam masa berkabung, haruskah dia tambahkan dengan kebahagiaan miliknya yang datang secara tiba tiba. Tidak terduga.
                Anet akhirnya menggeleng. Refleks tiba tiba saja Galih menangkat wajahnya dan menatapnya dengan wajah berseri seri. Anet tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Dia benar benar bingung mencari solusi dari problemnya.
Anet diam. Dilemparkan pandangannya ke taman kampus. Perasaannya kini sama dengan Bella mengharapkan cinta galih. Dan apakah cintanya akan sia sia seperti Bella?
“Kemarin sore lo ke mana sih? Kata pembantu lo, lo pergi ke mana, Net?”
                Anet jadi salah tingkah. Dia pura pura sibuk dengan hitungan integralnya. Bella mengambil bukunya.  “Ayo, lo udah mulai kencan yah? Dengan siapa, Net? Ceritain dong! Pasti dengan Albert, cowok kalem yang imut imut itu. Boleh juga pilihan lo gue setuju.”
                “Ngga, gue pergi dengan teman SMA gue kok. Nonton,” Anet menunduk. Memeriksa hitungannya.
                “Pacar lo waktu SMA?” kejar bella penasaran.
                “Huss, cewek kok. Namanya Inez. Kapan-kapan gue kenalin. Bel, nomor 5 gimana sih, gue kagak dapet-dapet,” Anet berusaha mengalihkan pembicaraan kemudian bella asyik nerangin.
                Pikiran Anet melayang kemana mana. Dia sudah berbohong dengan Bella.  Kemarin sore dia ngadate lagi dengan Galih.  Nemenin Galih beli buku di Gramedia Matraman terus cari kado di Toys City PIM untuk ultah keponakan Galih minggu depan. Sebelum pulang Galih ngajak makan di Wendy’s.
                Sudah hampir sebulan ini mereka jalan bareng. Dan baru mereka “jadi”. Bagi Anet malam itu adalah malam terindah dalam hidupnya.
Galih mengajaknya ke sebuah cafe kecil  yang romantis. Dengan membawa setangkai mawar merah yang masih basah kelopaknya, galih mengungkapkan perasaannya. Saking bahagianya, Anet jadi lupa Bella. Yang diingatnya malam itu, tanpa ragu Anet langsung menerimanya.
                Ketika pulang kencan itulah Anet sadar dia telah menghianati Bella. Tapi Anet tidak tahu apa yang mesti dia perbuat. Disatu pihak dia mencintai Galih. Tapi dipihak lain dia tidak ingin menghianati Bella.
                Ternyata dia lebih berat menerima Galih menjadi pacarnya. Anet berharap suatu saat Bella akan mengerti bahwa dia pun berat mengambil keputusan seperti ini.
                “Lih gue enggak bisa bohongin bella terus menerus. Kita harus terus terang tentang hubungan kita. Walau gue enggak sanggup melakukannya tapi enggak ada jalan lain,” kata Anet dengan wajah tak berdaya.
                Galih menarik nafas dalam dalam. Dia sendiri bingung. Dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan lagi. Mengatakan terus terang tentang hubungannya dengan Anet tanpa menyakiti Bella. Tapi bagaimana caranya?
                “Lo betul Net, kita emang harus jujur. Minggu depan kita ajak dia makan di Cinere Mall. Gimana, Net?”
                “Oke..setuju!”
                Bella surprais banget waktu Anet dan Galih main ke rumahnya. Kebetulan dia tidak  kemana mana. Siang ini penampilannya santai banget dengan kaos oblong dan jeans pendek yang sobek sobek.
                “Duduk deh, ntar gue ambilin minum dulu yah?” Bella sudah melesat masuk kedalam. Anet menatap wajah Galih sekilas. Bella kayaknya belum curiga mereka datang kerumahnya siang ini.
                “nih, minum deh kebetulan nyokap buat black forest,” katanya ramah sambil nyodorin piring piring kecil berisi potongan black forest.
                Anet memainkan piringnya tanpa selera untuk mencicipinya. Dia tidak tega melihat Bella. Galih lebih tenang. Dia mengunyah Black Forest pelan pelan sembari menemani Bella ngobrol.
                “Lo kenapa Net, lagi diet?” ledek Bella ramah.
                Anet tersenyum gugup. Sanggupkah dia melihat mata Bella yang bagus itu akan berubah redup?
                “Bel, kita makan siang di Cinere Mall yuk, gue yang traktir deh,” kata Galih akhirnya.
                “Wah dalam acara apa nih?” tiba tiba saja Bella menatap kedua sahabatnya curiga
                “Nggak,..itu galih bilang udah lama kita gak jalan bareng lagi. Dia jemput gue duluan supaya bikin lo suprais. Galih kan dapet proyek kecil kecilan ama temen-temen fakultasnya. Makannya dia ngajak makan,” jawab anet cepat.
                Galih meliriknya bingung. Kok jadi begini ?
                “Waah , selamat dong, Lih!” wajah Bella bersinar sinar lagi.
                Anet berusaha senyum untuk menutupi kegugupannya. Belum sempat saatnya dia berani untuk terus terang ke Bella. Dia tidak tega. Dia tidak ingin bella terluka lagi.
                “Tunggu, gue ganti baju dulu yah?” Bella masuk lagi. Anet memandang galih dengan tatapan bersalah. “sorry Lih, gue gak bisa ngomong sekarang. Sulit! Gue enggak tega....”
                “Udah Net, tenang aja,” hibur Galih seraya menepuk nepuk telapak tangan Anet yang mendadak dingin.
                “Oke, gue udah siap,” Bella kembali lagi dengan dandanan sportif. Kemeja ala cowok, jeans belel dan kets rambutnya yang berombak dibiarkan begitu saja. Tapi tetap saja bella terlihat cantik dan menarik.
                Hmmmm, kenapa Galih tidak dapat membalas cinta Bella? Kenapa dia harus bersahabat dengan Bella? Kenapa dia juga menyukai galih? Kenapa galih juga membalas cintanya? Seribu kenapa memenuhi isi kepala anet ketika mobil Galih masuk ke halaman parkir Cinere Mall.
                “lo kok bisa tau duluan kalo Galih dapat proyek?” tanya Bella begitu Bella dan Anet sudah keluar duluan dari mobil.
                “Dua hari yang lalu gue ketemu ama Galih di kantin, waktu lo ke perpustakaan bareng Audi. Terus Galih bercerita soal proyeknya dan dia ngajak makan bareng,” untung Anet bisa berfikir cepat. Padahal waktu galih cerita dulu dirumah Anet, Galih tidak ingin dibangga-banggain soal proyeknya. Tapi gimana lagi cari alasannya? Untung bella langsung percaya.
                “kenapa lo enggak ngomong jujur, Net?” tanya Galih setelah dia mengantarkan Bella pulang.
                “Gue enggak sanggup, Lih. Gue enggak mau kehilangan sahabat. Selama ini Bella terlalu baik ama gue.”
                “tapi selamanya kita enggak bisa kayak gini, Net?” sanggah Galih dengan konsentrasi penuh mengemudikan mobilnnya.
                “Nanti aja deh kalo Bella udah bisa ngelupain perasaannya ama lo. Mungkin dia bisa nerima.”
                “Dan selama ini kita harus pacaran bacstreet dibelakang dia?” Galih tersenyum pahit.
                “Nggak ada jalan lain lagi, Lih” jawab Anet pelan seraya menghembuskan nafasnya perlahan.
               
                “Kenapa kesini, Lih?” tanya Anet luar biasa bingungnya ketika Galih ke kelasnya. “ada Bella di dalam.”
                “Sorry, abis gue harus nyampein pesan Nyokap. Nyokap nyuruh lo datang besok ke pesta syukuran mas Adit lulus sarjana.. mao pake telepon, lo enggak punya telepon. Ntar sore gue nggak bisa ke rumah lo, soalnya mau nginep dirumah Angga, ngerjain tugas.”
                “Aduuuuh, tapi gue malu mao kerumah lo, kayaknya terlalu cepet deh. Baru aja jalan tiga bulan...”
                “Ssst, Bella datang, Net.” Bisik Galih pelan.
                “Eh, lih kok kesini mao ngapain?” tanya Bella heran. Anet berusaha tenang dilihatnya Galih lebih tenang lagi. Dia melihat cowok itu terseyum manis ke Bella.
                “ mao ketemu lo.  Mao bilangin lo dapat salam dari Vera. Dia nanyain kapan kita reuni lagi?”
                “Vera?” Bella kelihatan surprais banget. “Lo ketemu dimana?”
                “Di Empire.” Galih melirik Anet. Memang betul seminggu yang lalu mereka ketemu temen smanya galih dan cewek itu nitip salam untuk Bella.
                “Ntar gue telepon dia deh.yuk Net, Pak Gabriel udah masuk tuh.”
                “Lo duluan deh, Bel. Gue mo ke kamar mandi dulu,” begitu Bella masuk kelas, Anet langsung narik tangan Galih ke taman.
                “Aduuuh, kalo Bella ntar nelpon Vera gimana? Terus kalo Vera ngasih tau lo jalan ama cewek gimana?”
                “Ala, Vera kan gak kenal lo ini. Paling ntar Bella mikir gue lagi deket ama cewek.”
                “kalo dia curiga cewek itu gue gimana, Lih?”
                “Yah, udah nggak ada jalan lain. Sekarang saatnya jujur.”
                “kalo nanti Bella gak mao nganggap gue sebagai sahabat lag gimana?” tanya Anet cemas.
                “itu resiko, Net. Tapi gue pikir lama-lama Bella akan ngerti juga. Asal lo tetap baik ama dia.”
                “Mudah mudahan,” bisik Anet sangsi.
                “ Net, pulangnya kita makan di mie berkat dulu, yuk,” ajak Bella seminggu kemudian. Selama ini Bella selalu menghindar. Anet merasa Bella sudah mulai curiga.
Di dalam mobil Bella, mereka kebanyakan diam. Hanya Anet yang rajin membuka percakapan, soal kuliah yang dijawab ala kadarnya oleh Bella. Anet tahu sekaranglah saatnya untuk mengatakannya dengan jujur
                “Sekarang Galih lagi akrab ama cewek,” Bella yang pertama kali ngomong. Suasana mereka menjadi kaku banget. Anet  mencoba tenang. Diteguknya es jeruk untuk menenangkan diri.
                “waktu v\Vera main ke rumah gue, dia cerita kalo Galih lagi jalan ama cewek waktu ketemu Galih di Empire. Waktu gue tanya namanya siapa, vera bilang gak kenal. Tapi begitu dia ngeliat foto lo di kamar gue, dia langsung nunjukin kalo cewek itu adalah lo.”
                Kemudian mereka sama sama terdiam. Lamaa banget.
                “Gue nggak nyangka lo sejahat itu, Net. Gue kirain lo sahabat terbaik gue. Tapi ternyata lo mencoba nyakitin hati gue dengan pacaran ama galih dibelakang gue.” Suara Bella terdengar serak.
                “waktu gue dikenalin ama Galih, gue langsung suka ama dia. Abis dia memenuhi kriteria cowok ideal gue. Tapi gue nggak  berharap apa apa karena lo juga suka ama dia. Tapi ternyata Galih Cuma bisa nganggap lo sahabat yang baik.waktu itu gue merasa nasib gue nggak beda jauh ama lo. Tapi ternyata anggapan gue salah. Dia ternyata juga suka ama gue. Kemudian kita ‘jadi’ itu pun bolak balik gue mikirin lo. Tapi mungkin karena rasa sukanya gue ama galih, akhirnya gue milih dia jadi pacar gue.”
                “Kalaupun kita pacaran backstreet di belakang lo, itu Cuma gue gak mao nyakitin lo terang terangan. Gue cuman milih waktu yang tepat untuk jujur ama lo dimana lo udah bisa ngelupain perasaan lo ama galih.”
                “Nggak semudah itu, Net. Gue paling susah ngelupain orang yang gue sukai. Karena gue sulit jatuh cinta. Selama ini gue belon bisa ngelupain dia.” Suara Bella semakin serak.
                “Bel, maafin gue,” dengan sedih anet menatap wajah cantik Bella lama. “lo tetap mau nganggap gue sahabat kan?”
                Dengan kasar Bella menghapus air mata yang tergenang di sudut matanya. Dia mencoba tersenyum pahit.
                “gue gak tau net, udah dua kali gue ngerasain luka yang sama. Dan itu dilakukan oleh sahabat sahabat gue. Rasanya lebih nyakitin.”
                “sekali lagi gue minta maaf, Bel. Gue harap suatu saat lo bisa ngerti. Dan lo bisa nganggap gue sebagai sahabat lo lagi. Nggak tau kapan, tapi gue tetap mao nunggu.” Anet berdiri dan berjalan keluar.

                Matanya telah basah kini. Anet memandang Jalan Raya Margonda dengan rasa hampa. Ada yang menusuk nusuk dalam dadanya. Dan itu terasa menyakitkan. Tapi biar bagaimanapun dia harus menerima keputusan bella dengan ikhlas. Mudah mudahan nanti bella akan menerimanya kembali dan menjadi sahabat. Untuk itu Anet mencoba berdoa dengan tulus.
*****

Misteri Hutan Kecil





Dari jendela perpustakaan, Riris melihat seorang cowok duduk di bawah pohon beringin dekat hutan kecil itu, tengah memandangnya dengan tatapan sedih dan menusuk hati. Siapa sebenarnya cowok itu?

Riris mendekap diktatnya erat-erat. Menatap arloji mungilnya di pergelangan tangan. Jam sembilan malam. Perasaan jadi ngga enak. Semalam ini dia masih berkeliaran di kampus. Gara-gara dia harus mengopi buku Pak Ibrahim di Kopma yang tutup jam setengah sembilan malam. Salahnya juga. Kenapa bolos dua kali jam kuliah Pak Ibrahim. Hingga dia ketinggalan catatan dengan teman-teman kuliah lainnya. Untung saja Pak Ibrahim berbaik hati meminjamkan bukunya pada Riris.
“tapi kembalikan malam ini juga yah, Ris.” Pinta Pak Ibrahim. Riris mengiyakan saja. Sialnya, dia lupa meminta Keni menunggunya.
Hal yang paling ditakuti adalah melewati hutan kecil menuju jala raya. Nggak ada jalan lain. Riris bergidik. Membayangkan dia berjalan dalam kegelapan dalam hutan ini.
Sejak tahun 1988 kampus ini pindah di daerah pinggiran. Sebelumnya berada di pusat kota. Lama-lama tempat itu nggak cocok untuk tempat belajar. Akhirnya kampus ini pidah ke daerah pinggiran yang masih asri.
Riris celingak-celinguk sebelum memasuki hutan itu. berharap masih ada mahasiswa lain yang pulangnya kemalaman seperti dia. tapi nggak ada siapa-siapa lagi.
Riris membaca doa dalam hati. Mencoba menenangkan hatinya. Sebetulnya dia bukan penakut. Tapi berjalan sendiri di hutan ini. Ihh... Riris bergidik lagi. Ngeri!
Dia berjalan cepat-cepat. Tas ranselnya terayun-ayun mengikuti gerak tubuhnya. Riris panik. Membayangkan dia bertemu dengan makhluk-makhluk halus. Ihh...
“halo”
Ada suara menyapanya. Riris berhenti. Memasang telinganya baik-baik. Dia takut itu Cuma halusinya semata.
“halo, halo...”
Riris lemas. Kayaknya nggak ada siapa-siapa. Tapi dari mana suara itu datang. Riris berjalan lagi. Lebih cepat.
“Non, tunggu!” suara-suara langkah memburunya. Riris makin panik. Dipercepat langkahnya. Napasnya tersengal-sengal. Sialnya, jalan raya masih jauh! Sebuah tangan menarik ranselnya. Riris menjerit. Tubuhnya semakin lemah. Jantungnya bergerak lebih cepat. Ohh, Tuhan, tolong...! Dia sibuk berdoa.
“jangan takut,” sebuah suara berat terdengar. Riris memberanikan diri mengangkat wajahnya. Sosok itu tinggi menjulang. Tapi bukan hantu. Seorang cowok tengah memamerkan senyum termanisnya.
“sori yah aku udah bikin kamu takut. Aku Ben. Anak teknik. Aku Cuma mau bilang kalo kamu salah. Ini bukan menuju jalan raya. Tapi Rektorat. Kamu nggak ada urusan ke sana kan malam-malam gini?”
Riris tersipu malu. Aduuuh, saking paniknya!
“oke, kita jalan bareng, yuk. Sambil ngobrol,” cowok itu berjalan di sisinya. Perasaan Riris jadi tenang.  Walau dia nggak kenal cowok itu, tapi seenggaknya dia punya teman pulang.
“kamu kok baru pulang sih?” cowok itu membuka percakapan.
“aku anak D3 Fisip. Biasanya sih pulang kuliah paling telat jam delapan malam. Cuma aku harus ngopi dulu buku dosenku. Akhirnya jadi kemalaman. Kamu sendiri?”
“pulang tugas siaran di radio anak-anak teknik. Biasanya sih nginep di studio. Cuman malam ini aku harus ngerjain tugas gambar.”
“jadi kamu kos dong?”
“iya. Di Gober. Kamu sendiri?”
“Di Khairunnisa. Dekat stasiun Pondok Cina.”
“kamu tidur di stasiun?”
Riris tersenyum. Nih cowok ngocol juga.
“tadi kamu bilang foto copy buku dosen kamu. Berarti kamu sering bolos dong.”
“yah, abis gimana yah? Keadaan yang memaksa begitu. Aku kerja part time. Sebagai apa saja, stan guide, guru les privat, penjaga toko bahkan baby sister dikeluarga bule pernah aku jalanin.
Sekarang aku kerja di butik. Abis gimana yah, sebetulnya bapakku nggak sanggup biayain aku kuliah. Cuma aku yang ngotot pengen kuliah. Bapak bilang aku boleh kuliah asal bisa bayar uang kuliah sendiri. yah, terpaksa segala pekerjaan aku jalanin. Asal halal. Buktinya sampe semester tiga ini kuliah ku lancar-lancar saja,” ada rasa bangga dalam suara tersebut.
Ben memandang kagum gadis mungil disampingnya. Keliatannya sih gadis itu lemah. Tapi buktinya? Ben geleng-geleng kepala. Takjub.
“kamu sendiri?” Riris mengangkat wajahnya. Menatap Ben.
“ahhh, hidup kamu jauh lebih beruntung, Ris.” Desah Ben. Pandangannya menerawang. Menembus pekatnya malam.
“Ben, bukan bermaksud aku ikut campur. Kalo kamu gak mo cerita nggak apa apa kok.”
“nggak apa apa kok. Sebetulnya udah lama aku pengen punya teman ngobrol cewek. Abis gimana yah cewek itu kan lebih care. Tapi nyari temen cewek di teknik susah! Kalo pun ada pasti udah punya cowok.”
“yah udah. Anggap aja aku temen kamu.”
“kamu mau?” sepasang mata teduh itu berbinar, Riris menelan ludahnya. Cowok ini pasti sangat membutuhkan teman bicara.
“aku korban broken home. Ortu cerai sejak aku lulus SMA. Sebetulnya aku nggak minat kuliah. Buat apa. Toh mereka juga gak berharap aku jadi orang. Tapi bokap maksa. Malah ngancam akan mengusirku dari rumahnya. Terpaksa aku kuliah. Daripada aku jadi gelandangan. Tapi aku sering bolos. Sebetulnya aku nggak minat kuliah di teknik. Bokap yang maksain. Katanya biar perusahaan desain graphis-nya jatuh ketanganku. Tapi aku nggak peduli. Kuliah bagiku Cuma pelarian. Biar aku bebas dari rumah.”
Ben menghentikan ceritanya. Riris menunggunya dengan sabar. Angin berhembus kencang. Riris merasa dingin. Dirapatkan kerah sweaternya.
“dingin? Nih pake aja jaketku.” Ben telah menyodorkan jaket jeansnya. Riris nggak tega nolak. Wangi parfum khas cowok menyergap hidungnya. Macho. Semacho penampilannya.
“aku sering nongkrong di cafe-cafe. Disitu aku kenalan dengan anak-anak yang nasibnya nggak beda denganku. Mereka ngenalin aku dengan sesuatu yang bisa membuatku melupakan penderitaanku. Membuatku nyaman. Aku seperti melayang-layang. Ringan. Bebanku seperti lenyap. Aku bisa tertawa-tawa bahagia.”
“Ben, kamu ngedrugs?” tanya Riris hati-hati.
“yah, ngga ada cara lain menghentikan kesedihan itu, Ris. Aku frustasi. Aku seperti nggak berarti apa-apa.”
“sebetulnya kamu pengen kuliah dimana?”
“Aku seneng banget gambar. Aku udah di terima di ASRI Yogya. Aku pengen jadi seniman. Punya sanggar lukis sendiri. Tapi Bapak telah merusak impian itu. katanya, jadi seniman adalah hidup sia-sia. Cuma merusak nama ningrat keluarga Bapak.”
“ibumu?”
“dia udah punya keluarga sendiri. dari dulu ibu nggak tahan sama keluarga bapak yang terlalu membanggakan keningratannya. Aku sendiri heran. Di zaman yang udah semodern ini darah biru masih aja merupakan kebanggaan. Bagiku derajat manusia sama aja dimata Tuhan. Yang penting bagaimana dia menjalakan kehidupannya.”
“tapi kamu nggak pernah ngedrugs lagi kan?” tanya Riris. Hati-hati lagi. Takut menyinggung perasaan Ben.
“Kadang kala, Ris. Kalo aku lagi suntuk. Nggak tau mau ngapain.”
“kenapa nggak berdoa aja? Atau sholat?”
Ben tercenung. Lama.
“udah lama banget aku nggak pernah sholat, Ris. Paking kalo lebaran aja. Itupun sholat sendiri-sendiri. nggak pernah berangkat dan pulang bareng. Kalo lebaran aku malah sedih. Kapan keluargaku bakal rukun?”
“kenapa nggak kamu yang merukunkan mereka. Kamu malah melarikan persoalan kamu dengan ngedrugs. Apa dengan ngedrugs keluargamu bakal rukun kembali? Nggak kan? Sorry lho, Ben, bukan maksudku sok menggurui kamu.”
“tapi seenggak-nggaknya dengan itu aku bisa melupakan persoalan sebentar.
“iya, Cuma sebentar. Setelah kamu sadar lagi, persoalan itu masih terus saja ada.”
Ben mengangguk. Menyetujui pendapat Riris. Baru kali ini pemikirannya terbuka. “Thanks Ris. Aku sadar apa yang aku lakukan nggak akan mengubah keadaan. Malah bertambah kacau.”
“kamu janji nggak akan mengulanginya lagi?” tanya Riris berdebar-debar.
“aku janji, Ris. Demi kamu.”
Hati Riris berbunga-bunga. Langkahnya semakin ringan. Kayaknya udah lama dia mengenal Ben. Mereka ngobrol lagi. Yang ringan-ringan saja.
“udah sampe nih Ris. Kamu naik apa?”
“taksi aja deh. Abis udah malem sih. Kamu sih enak. Udah nyampe di kos?”
Ben mengangguk. Menunjukkan rumah bertingkat bercat putih. Kos khusus cowok.
“oya, nih jaketnya. Entar kelupaan lagi. Thanks yah.,” Riris melepas jaket jeans milik Ben.
Mereka berpisah. Riris merasa berat. Seandainya mereka bisa ngobrol lebih lama lagi. Ahhh, belom tentu tentu mereka ketemu lagi. Riris menyesal. Kenapa nggak ngasih nomor telepo kostnya?
Ketika Riris menoleh untuk memanggil Ben. Ben udah nggak keliatan lagi. Cowok itu menghilang! Secepat itu?

...

“Pulangnya buruan, yuk. Udah malem nih,” Keni menatap cemas jam Guess-nya.
“tenang deh, Ken. Ngga ada apa-apa kok,” Riris merapikan alat-alat tulisnya. Dimasukkan ke tas ranselnya.
“Ah, sok tahu lo,” Keni manyun. Diikuti langkah Riris keluar dari kelas mereka. Anak-anak yang lain udah bergegas pulang. Kebanyakan mereka nebeng dengan anak yang bawa mobil. Atau setia nunggu bis kampus yang akan lewat.
Tapi banyak juga yang memilih lewat hutan kecil itu. lebih cepat ke jalan raya. Setelah baru naik bis. “seminggu yang lalu gue malah kenalan ama anak teknik. Keren deh anaknya. Kayak Atalarik. Lo tau kan?”
“Atalarik kek, Brad Pitt kek, emang gue pikirin. Jalannya yang cepet dong, Ris, tuh kita ketinggalan jauh ama yang lainnya.”
“aduuh, Keni. Penakut amat sih. Percaya deh ama gue. Nggak ada apa-apa. Gue malah kenalan ama duplikat Atalarik itu. Namanya Ben.”
“Ris, lo sih nggak tau gosip yang beredar di kampus ini. Lo sibuk kerja sih jadinya nggak tau kan gosip terbarunya anak-anak?” tanya Keni tanpa memperdulikan omongan Riris.
“apaan sih, Ken? Paling-paling gosipnya Pak Hengki yang naksir Bu Lita. Atau Citra yang putus sama Emir. Ahhh, kalo Cuma itu sih bosen. Gosip nggak bermutu.”
“namanya juga gosip. Mana ada yang bermutu sih? Masalahnya bukan itu, Ris. Tapi kalo gue ceria lo juga bakal nggak percaya. Lagian gue takut cerita yang serem-serem di tempat seperti ini.”
“Ooo... jadi cerita serem nih?” tanya Riris cuek. Tanpa memperdulikan wajah Keni yang udah pucat.
“Ahhh, udah deh nggak usah dibahas. Gue takut kalo gue cerita besok lo nggak mo pulang lagi. Malah ngumpet aja di kelas.”
“emangnya gue kayak loe,” balas Riris nggak mo kalah. Keni diam aja.
“Dua hari yang lalu Putri shock lewat sini. Tapi dia nggak mo cerita.”
“trus gosip seremnya apaan dong?” tanya Riris penasaran.
“kan udah gue bilang, gue nggak mo cerita di sini. Entar-entar aja kalo gue udah berani lewat sini sendirian.”
“yah, sampe kapan dong?” lama-lama Riris jengkel juga. mo cerita aja sush amat.
“besok lo nanya aja ama anak-anak yang lain. Uff, utung udah nyampe deh! Mendigan mulai besok gue minta Hang jemput gue aja deh.”
“gue pulang sendirian dong?”
“lho, katanya lo berani?”
Riris cemberut. Mana enak pulang sendiri. mending kalo ketemu Ben. Riris jadi ingat cowok itu. dia udah nggak ketemu cowok itu lagi. Mungkin hampir tiap malam cowok itu nginep di studio.

...

“cowok itu emang cakep sih. Tapi kalau dia tersenyum, ihh... dingiin banget. Perasaan gue jadi nggak enak. Gue buru-buru kabur aja,” cerita Mitha di kantin.
Riris menikmati nasi gorengnya cuek. Pagi ini mereka ada kuliah. Menggantikan jam kuliah Pak Ibrahim yang berhalangan hadir tiga hari yang lalu. Terpaksa Riris minta ijin Mbak Risa, penanggung jawab butik itu. abis dia nggak boleh bolos lebih dari dua kali.
“gue juga sering ngeliat dia nongkrong di Balsem. Kayaknya sih bukan anak Fisip. Tapi dia kok demen banget disitu,” Sasa menimpali cerita Mitha.
“orangnya kayak gimana?” tanya Putri tertarik.
“jangkung, putih, wangi... pokoknya keren deh. Kayak foto model,” jelas Mitha.
“kayak atalarik?” bisik Sasa.
Riris mengangkat wajahnya. Siapa... Atalarik? Berarti Ben dong. Ben juga mirip-mirip Atalarik. Wah, gawat kalo mereka udah ketemu Ben. Ben bakal jadi rebutan!
“kita waktu itu ngobrol-ngobrol. Kasian deh. Dia korban broken home. Dia dipaksa kuliah disini padahal dia nggak minat. Waktu gue nanya nomor telepon rumahnya biar komunikasi terus berlanjut, dia nggak mo kasih. Begitu juga waktu gue kasih nomer telepon gue, dia cepet-cepet pergi. Tingkahnya aneh banget. Trus, ilangnya itu cepeeeet banget. Gue jadi curiga deh. Jangan-jangan dia...”
“udah, udah! Lo jangan nyebarin gosip dong, Mit! Gue kan jadi takut pulang lewat hutan itu,” Sasa merapat ke tubuh Riris.
Kepala Riris jadi pusing. Gosip? Gosip apaan sih? Banyak banget sih gosip yang beredar di kampus ini?
“mit, cerita dong,” pinta Riris serius.
Mitha menoleh ke Sasa. Tapi Sasa menggeleng. “jangan deh, please... hari ini gue kuliah sampe malem nih. Sopir gue nggak jemput lagi. Terpaksa gue naik Bis. Dan mo nggak mo gue kudu lewat jalan hutan itu,” keluh Sasa sambil narik napas panjang-panjang.
“ya, udah deh, kalo nggak mo cerita. Gue pusing nebak-nebak gosip yang beredar di kampus ini. Mendingan gue ke perpus aja. Ada buku yang mo gue pinjem.” Riris berdiri mo bayar makanannya ke ibu kantin.
Dengan santai Riris masuk ke perpus. Tumben sepi. Biasanya jam segini banyak yang baca buku di sini. Sebelum menuju rak buku perbankan, iseng-iseng Riris menjangkau koran ‘Gema Kampus’ milik anak-anak Fisip yang terbit seminggu sekali. baru kali ini ia sempat baca. Biasanya sih nggak pernah ketinggalan. Riris menelusuri satu per satu artikel-artikel yang ada di ‘Gema Kampus’. tiba-tiba matanya melotot. Dibawah kiri, ada artikel kecil. Plus sebuah foto keren. Riris seperti kenal dengan wajah keren ini. Ben...

Seminggu yang lalu ditemukan seorang cowok tewas tertabrak kereta api di jalur rel kereta api depan hutan kecil, dekat kampus Fisip pada pukul enam pagi. Walau beberapa saksi mata telah memperingati cowok itu supaya tidak menyebrang. Tapi sepertinya cowok itu tidak sadar diri. Diduga dia abis ngedrugs...

Riris melihat tanggalnya. Tanggal 17, berarti kejadiannya tanggal 10. Tepat malamnya ia bertemu dengan Ben. Kenalan, ngobrol-ngobrol... ih, Riris merinding.
Tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Riris menjerit. Dari jendela perpus, dia melihat seorang cowok tengah duduk di bawah pohon beringin, dekat hutan kecil itu. tengah memandangnya dengan tatapan sedih dan menusuk hati. Dia mengenakan jaket jeans yang seminggu lalu Riris meminjamnya. Riris seperti mencium wangi parfum cowok itu yang macho.
Riris yakin cowok itu adalah.... Ben!


***

Pemandu Wisata





“Hai, anak Sastra?” Sapa seseorang dengan Bahasa Indoneia yang terpatah-patah. Kuangkat wajahku dari buku. Laki-laki cakep dengan tampang bule. Sebelum sempat kujawab, dia mengulurkan tangannya. “I’m Patrick.”  Kuhadiahkan senyum termanisku. “Ajeng.” “Nama yang bagus,” dia tersenyum pula. Begitu lembut. Hmmm. Sempat-sempatnya muji si bule itu. “Thank’s,” kututup buku. Lalu berdiri.

Mau pulang? Biar kuantar,” kali ini Bahasa Indonesianya lancar. “Aku biasa sendiri,” jawabku. “Hmmm, aku nggak bisa lihat wanita pulang sendirian. Kalau kukenal pasti kuantar,” tawarnya sopan. Ahhh, pria bule memang lebih care dan gentle ketimbang    cowok Indonesia.
Dalam perjalanan pulang menuju kosku kami sibuk bercerita-cerita. Soal Indonesia atau negeri asalnya, Australia. Betapa menyenangkan ngobrol dengan dia, anaknya ramah dan aku bisa memperlancar Bahasa Inggris. Lumayan. Lagipula menambah teman.

“Kamu ke Indonesia dalam rangka apa?” tanyaku.  “Turis. Udah beberapa kali aku ke Bali. Tapi baru kali ini ke Yogya. Aku perlu temen nih. Di samping untuk guide , aku juga perlu mempelajari Bahasa Indonesia. Di college-ku sana, aku ngambil mata kuliah Bahasa Indonesia.”

 “Kenapa tertarik dengan Bahasa Indonesia?” “Di Australia sudah banyak orang Indonesia yang sekolah dan bisnis di sana. Aku perlu mempelajarinya agar mudah bercakap-akap dengan mereka. Lagi pula my girlfriend asli Indonesia.”

“Oya?” tanyaku tertarik.
“Ahh, tapi itu dulu.Kami udah putus. Ternyata dia udah punya pacar di Indonesia. Aku nggak habis piker, tega-teganya dia nyeleweng. Aku harap tidak semua wanita Indonesia seperti itu . Aku tahu masih banyak yang setia,” pandangnya melembut. Aku sedikit grogi.

Patrick betul-betul menarik. Jangkung, dengan kulit putih bersih , sepasang mata yang lembut dan care itu yang membuatku seperti  melayang tinggi.
Baru seminggu kami berteman, tapi sudah banyak yang kuketahui tentang keluarga, kuliah, teman-teman dan kesukaannya mendengar Gamelan Jawa dan makan masakan gudeg.

“Boleh aku Tanya?” tanyanya ketika kami sedang dinner di Restoran Jepang. “Ada apa?” aku balik bertanya. Kulihat dia sedikit gugup. Lalu dihirupnya teh hangat sebelum mengeluarkan kata-katanya.
“Apakah kamu sudah punya pacar?” ohh, My God, kirain mau nanya apa, segitu gugupnya! Aku jadi ingin tertawa. Tapi melihat tampang seriusnya, kutunda tawaku.

Aku mengangguk. Kulihat matanya sedikit kecewa. Ahhh, itu mungkin hanya penglihatanku saja yang salah. Lalu kuceritakan tentang Hanung.
“Besok kita ke sanggar lukisnya yuk! Kukenalkan kamu dengan Hanung. Dia pasti senang dapat teman baru. Apalagi bule ramah seperti  kamu ,” kulihat dia mengangguk.

Besoknya, seperti rencana semula, kuajak ia ke sanggar lukis milik Hanung yang terletak di komplek kampus. Hanung tampak sibuk memberi pelajaran pada beberapa mahasiswa baru seni rupa.


Patrick tampak antusias bertanya soal lukisan. Dengan semangat pula Hanung menjawabnya. Ketika kutanya kenapa dia begitu tertarik dengan lukisan , dia menjawab bahwa dia telah suka melukis ketika berumur tujuh tahun. Lewat sepuluh tahun, dia tergila-gila dengan sport. Terutama basket. Tidak heran jika tubuhnya atletis.

“Sampai kapan kamu di Yogya?” Tanya Hanung.
“Mungkin sebulan aku di sini.  Liburan semesterku sampai bulan depan. Gara-gara liburan summer  kemarin aku kerja keras sebagai accounting, liburan kali ini kubalas dengan travelling ke Indonesia.”
“Hanung, aku pinjam Ajeng  untuk mengantarku ke Borobudur,” pintanya begitu kami pamit pulang.
“Boleh. Asal dikembalikan yah?” candanya.
Sure,” Patrick mengedipkan matanya lucu.

“Kau seharusnya senang punya pacar seperti Hanung. Aku lihat dia memberi kebebasan penuh buat kamu dapat berteman dan jalan dengan siapa saja.”
“Itu memang kelebihannya tapi sekaligus juga kekurangannya,” keluhku.
What’s happen?”
“Ahhh, sudahlah . Sabtu besok kita jadi ke Borobudur kan? Jangan lupa bawa tustel ,” aku melambaikan tangan. Patrick telah menghilang di gelapnya malam.

“Apa, sabtu besok kamu ke Borobudur dengan bule itu? Apa malamnya kamu nggak ada acara dengan Hanung?” Tanya Dewi, teman sekamarku.
“Ahhh, Hanung mana mau peduli denganku. Lukisannya nomor satu, sedangkan aku hanya nomor kesekian,” keluhku kesal.
“Karena itu kamu sering jalan dengan Patrick? Sebelum Pat, ada juga Jon, Brandon, James turis-turis bule yang memerlukanmu sebagai guide.”
 “Lumayan kan, aku bisa nambah teman, Bahasa Inggris-ku lancar, uang makan terjamin…”
“Ahhh, kamu matre juga!” telakan yang membuatku melotot . Tapi Dewi malah tertawa riuh.
“Kalau bukan matre, apa namanya? Kamu suka bergaul dengan bule –bule itu karena kamu bisa pergi dan makan gratis kan? Itu tidak kamu dapatkan dari Hanung. Karena dia terlalu giat mencari uang untuk biaya hidup dan kuliahnya sendiri di Yogya. Yah, sekali-kali kamu ditraktir makan tapi dibandingkan dengan bule-bule itu, Hanung tidak ada artinya apa-apa.”

Aku terdiam. Lama. Ahhh, sejahat itukah? Sungguh, aku tak pernah menyadarinya.
“Jeng, tolong jaga perasaan Hanung. Aku tahu dia pasti kecewa kamu pergi seenaknya dengan bule-bule itu. Dia tidak pernah melarang karena selama ini dia merasa bersalah tak dapat menemanimu setiap saat karena dia harus bekerja.”
“Itu kulakukan karena aku kecewa selama ini tak pernah kulihat Hanung cemburu. Aku selalu berprasangka Hanung tidak pernah utuh mencintaiku.”
“Tanya itu pada Hanung. Jangan mengambil kesimpulan sendiri,” Dewi menjentik hidungku.
“Ahhh,sudahlah,Wi. Mungkin kamu benar . Walau aku tidak menyadarinya. Walau yang kucari dengan mereka hanya kesenangan belaka…”
“Dan pelarian karena Hanung tidak begitu perhatian padamu?”
Maybe,” kuangkat bahu.
Sorry, Pat, aku nggak bisa ngantar kamu ke Borobudur,” aku tak berani memandang wajahnya. Aku tak ingin melihat kekecewaan di matanya yang biru.
“Kenapa , Jeng?” suaranya begitu sedih.
“Kau lihat aku udah semangat bawa tustel, berbagai camilan dan soft drink dalam ransel,” dia menunjukkan ransel yang bertengger di pundaknya .
Sorry,  kepalaku pusing.”

“Kamu sakit?” Dia menatapku begitu khawatir .
“Kubelikan obat yah?”
Thank’s. Nggak usah. Aku hanya perlu istirahat. Mungkin aku kecapean karena harus  kerja membatik begitu pulang kuliah.”
“Kamu kerja?” dia ternganga. Mungkin dia heran. Dipikirnya aku tipe cewek hura-hura yang hanya memikirkan kesenangan belaka. Tidak heran jika Patrick berpikir begitu. Hampir tiap malam aku menemaninya ke diskotik atau hampir tiap hari mengantarnya shopping atau nongkrong di cafĂ©.
Baru kusadari aku hanya cewe pemimpi yang melarikan diri dari kenyataan bahwa aku hanya anak petani miskin yang beruntung dapat kuliah dengan  beasiswa. Aku sibuk bergaul dengan bule-bule  yang dapat menunjang kesenanganku hura-hura.
Dewi betul, seharusnya aku memikirkan dan menjaga perasaan Hanung.
“Yah, aku harus kerja. Kau pikir darimana biaya hidupku di Yogya selama ini? Aku kerja serabutan. Guru les privat , guide, pelayan cafe, penjaga toko dan sekarang aku bekerja part time sebagai pembatik.”
I don’t believe,” dia melongo lagi. Aku tersenyum. Walau kurasakan getir.
“Ahhh, sudahlah. Aku masuk dulu. Sorry, aku capek sekali.”
“Istirahatlah, Jeng. Nanti malam aku ke sini yah? Kubawakan bubur ayam hangat. Itu kesukaan kamu kan?”
“Nggak usah. Nanti malam Hanung ke sini,”dustaku. Sekali lagi kutatap matanya yang kecewa. Dia langsung pamit tanpa berkata apa-apa lagi. Kulepas kepergiannya dengan perasaan hampa.

***

“Jeng, aku pamit,” seminggu kemudian Patrick datang. Dandanannya sore ini begitu rapi dengan kemeja corak batik ringan dan celana bahan krem. Kugigit bibirku dengan pedih. Kemeja itu kubelikan di Malioboro.
“Seminggu kita nggak pernah ketemu yah, Jeng, gimana kabarmu?” dia duduk di sampingku.
Suasana kos sore ini terlihat sepi.
“Baik,” hanya itu yang dapat kujawab. Kalau saja dia tahu betapa stressna aku menghadapi persoalan yang datang bertubi-tubi. Hanung yang pulang kampung tanpa pamit karena si Mboknya sakit, adikku yang kirim surat minta dikirimi uang  SPP karena panen Bapak gagal kali ini dan ujian-ujian yang harus kuhadapi di kampus. Rasanya kepalaku ingin pecah.

Bagaimana dapat membantu adikku sedangkan aku telah mengundurkan diri dari pekerjaanku karena aku tidak sanggup kerja sampai malam seperti itu. Dan sekarang Patrick pamit pulang ke Australia.
“Kenapa, Jeng, tubuhmu kurus?” dia memandangku penuh perhatian.  Dengan lesu aku menngeleng.
“Sekiranya ada yang dapat  kubantu?” sekali lagi aku menggeleng.
“Okelah, aku pamit dulu. Besok aku pulang ke Australia. Ini sedikit kenang-kenangan untukmu,” dia menyodorkan bungkusan mungil. Lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi.

Dengan hati-hati kubuka bungkusannya. Isinya adalah scraft warna merah muda dengan motif bunga-bunga kecil. Begitu manis. Dan juga minyak wangi dengan aroma lembut. Secarik kertas terjatuh.

Dear, Ajeng.
Aku senang memiliki teman baru seramah kamu. Hari-hariku jadi penuh warna begitu kutahu masih ada gadis cantik yang baik hati seperti kamu. Walau aku kecewa kau telah memiliki Hanung tapi... sudahlah, itu tak penting lagi. Kubawa foto-foto kita, akan kuingat wajaahmu yang cantik dan senyummu yang ramah. Tak kusangka di balik keceriaanmu itu, ternyata kau gadis tegar yang membiayai sendiri hidupmu di Yogya.
Jeng, ada sedikit kenang-kenangan buatmu. Kuberi scarf dan parfum agar aku selalu terkenang akan kelembutanmu.
Selamat tinggal, Jeng. Salam buat Hanung.

Aku tercenung. Rasanya ada yang kehilangan dengan kepergiannya. Tidak pernah kualami dengan bule-bule sebelumnya. Mungkin persahabatan kami yang manis dan tulus telah begitu berkesan di hatiku.
“Selamat tinggal, Patrick,” bisikku samar-samar.

***

“Jeng, ada yang cari kamu tuh,” Wedha menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruang On Air.
“Siapa?” kucopot headphone. Kunaikkan tape nomor satu. Tembang Negeri Di Awan milik Katon terdengar manis. Lalu kusiapkan iklan di tape nomor dua.
“Lihatlah ke depan,” jawab Wedha tak sabar.
Bergegas aku ke luar. Di ruang tamu Studio One-Zero kulihat Hanung membaca sebuah buku.
“Hai, kapan datang?” sapaku surprise. Hanung tersenyum. “Tadi pagi aku datang. Aku ke kampus sebentar lalu ke sini.”
“Kok tau aku kerja di sini?” tanyaku dengan nada yang sama. Masih surprise.
“Tau dong. Masak kerja pacar sendiri nggak  tau,” Hanung mengedipkan matanya centil. Aku jadi tersipu-sipu.
“Bagaimana kabar si Mbok?”
“Baik. Beliau udah sembuh. Berkat do’amu juga.” Aku mengangguk-angguk.
 Ikut merasa senang juga.
“Oya, Jeng, nih ada sedikit uang buat bayar SPP adikmu. Kebetulan sebelum pulang kampung, lukisanku terjual.”
“Nggak usah, Nung, udah kukirimkan uangnya kok. Dari hasil honorku ngirim cerpen.”
“Kamu bisa buat cerpen?” tanyanya takjub.
“Apapun kulakukan, Nung. Asal halal kan?” Hanung mengangguk.
Sebelum kuceritakan soal Patrick, Wedha sudah teriak mengatakan bahwa lagu Katon sudah habis.
“Aku siaran dulu yah, Nung.”
“Minta lagu dong, Jeng,” pintanya tiba-tiba.
“Lagu apaan? Aku menghentikan langkahku.
I Will Always Love You-nya Whitney Houston.”
Aku menoleh. Bingung. Tidak nyangka ternyata Hanung bisa romantis juga.
Hanung mengedipkan matanya. Tapi yang jelas, aku bahagiaaaaaa sekali. ©

Jumat, 12 September 2014

Tak Bisakah


Tak bisakah kau duduk di sini sejenak
menemaniku memandang langit biru
dan menghitung bintang-bintang kecil
tunjuk satu bintang yang kau sukai
agar kuberi nama bintang itu
dan kuingat namanya
Tak bisakah kau duduk di sini sejenak
mendengar nyanyian malam
bersenandung tentang kesunyian
sesunyi hati yang lara sejak kau pergi
dan tak datang-datang lagi

Tak bisakah kau duduk terdiam di sini
mari kita hitung detak jantung kita
apakah masih seirama
agar tak sia-sia rindu ini tersimpan

Kamis, 11 September 2014

Meski Telah Jauh



Meski telah jauh
aku masih bisa memandang sinaran itu
yang muncul dari sebuah bintang kecil
masih kaukah pemiliknya?
Meski kau telah pergi
namun jejakmu masih tertinggal
bolehkah kusimpan
agar aku masih bisa membuka kenangan itu
Meski telah jauh
masih ada bayanganmu
yang mengikutiku kemana pun kupergi
haruskah, tak bisakah menghilang saja?
Meski pun kutelah sembunyi,
namun seakan senyum itu hadir
di sela-sela mentari yang menyapaku hangat
haruskah kuterbangun dan mengingatmu lagi?

Meskipun telah jauh,
namun kau seperti tak pernah pergi dalam hatiku