Sabtu, 20 September 2014

Burung-Burung Beterbangan



“Ra, cepetan ntar telat lagi!” teriak Tari. Masih terkantuk-kantuk aku menyiapkan buku paket kimia, buku tulis dan buku les juga pulpen satu biji. Ugh, seharusnya jam segini tidur siang. Dan sorenya bisa ngeceng atau ngumpul-ngumpul sambil ngegosip seperti yang sering aku lakukan dengan Sri, Linda, Pingki, Nella dan Tanti di Singkawang sana. Tapi begitu pindah ke Medan, aku malah mengikuti jejak Tari berajin ria ikut bimbingan test.
          “Tara, sisiran rambutnya yang betul dong,” omel Mama seperti biasa.
          “Tara udah nggak sempat lagi, Mam,” terburu-buru kuambil sendal jepit. Kukepit buku-buku dan pulpen di tangan. Mama geleng-geleng kepala. “Nggak bisa dandan rapian dikit, Ra?”
          “Ah malas, Ma. Mau les ini ngapain sih rapi-rapi segala,” kulirik dandanan Tari yang rapi jali seperti biasanya. Kemeja polos ungu dipadukan dengan rok lebar motif bunga-bunga dengan warna lembut. Sedangkan aku sendiri? Hihihi Cuma kaos oblong putih dan rok abu-abu.
          “Tuh rambut udah panjang. Potong aja kenapa sih? Atau kalau nggak iket biar rapian dikit,” Mama masih saja mengomel di teras. Bang Sam supir pribadi Papa jai tersenyum dengan kecerewetan Mama.
          Sebelum mobil keluar dari Jalan Sakti Lubis aku sudah tertidur di bangku belakang.
          “Bangun, Ra, udah nyampe!” Tari dengan ganas menggoncang-goncang badanku. “Molor melulu,” wajahnya yang cantik cemberut.
          “Ngantuk! Tadi malam belajar kimia organik. Mana pr Bahasa Inggris berjubel-jubel. Sadis deh sekolah di Medan!” jawabku seraya mencari-cari sendal jepit di kolong bangku.
          “Masih ada waktu lima menit lagi. Aku ke ruang diskusi dulu, ada pr kimia,” aku memasuki sebuah ruang yang nggak terlalu luas.
          “Bang, tolongin dong nomor lima,” kusodori buku paket kimia. “Sebentar yah, Dik. Tunggu giliran,” jawab seorang mentor kimia yang sibuk meladeni pertanyaan seorang cowok kacamata. Aku meliriknya nggak sengaja. Hmmm, lumayan manis.
            Tapi lama-lama Si Manis nggak tahu diri. Dia masih asyik diskusi beberapa soal kimia dengan seorang temannya dan mentor kimia.
          “Bang, bentar dong. Tinggal lima menit lagi masuk nih,” aku jengkel juga. Si Manis memandangku. “Pr kimia organik yah? Nomor berapa?” tanyanya simpatik.
“Lima,” jawabku nggak sabar.
          “Nih, aku udah selesai. Copy aja,” dia menyodorkan bukunya.
          “Thanks. Aku lebih suka kalau ngerti jalannya,” kupasang wajah cuek.
          “Terserah,” dia keluar diikuti temannya. Dalam waktu lima menit aku mencoba keterangan mentor kimia dengan baik. Untunglah selesai juga. Bergegas aku masuk kelas begitu bel berbunyi panjang.
          Pulang les kutunggu Tari di pintu gerbang belakang. Mobil Papa juga belum kelihatan. Bang Sam pasti masih di kantor Papa.
          Tiiin, suara klakson motor membuatku kaget. Brengsek! Hampir saja aku terserempet.
          “Bisa naik motor nggak sih?” Omelku. Cowok itu membuka helmnya. “Sorry, aku nggak sengaja.” Si Manis itu lagi rupanya. Tanpa berkata apa-apa aku minggir dan membiarkan motornya lewat.
          “Lho, hari Rabu kok les?” tanya Mama yang asyik dengan majalahnya. “Ikut kelas lain, Mam. Abis kemarin nggak bisa les karena praktikum biologi,” aku menjawab sembari menyisir rambutku yang kini telah rapi sebahu dengan model bob.
          “kenapa nggak pindah hari saja. Les kamu kan bentrok sama praktikum biologi,” Tari datang sengan sepiring rujak yang menggiurkan. Kucomot nanas muda kesukaanku.
          “Malas ngurusnya ah. Lagian sementara ini. Paling nanti praktikumnya pindah hari,” aku segera pamit.
          “Berani kamu pakai sudaco? Tanya Mama khawatir. “Emangnya kammu udah tahu naik sudaco nomor berapa?”
          “Tenang aja deh, Mam. Jangan panggil Tara kalau ke Jalan Batam aja nggak berani pakai sudaco.”
          “Ini Medan, Ra, bukan Singkawang yang kota kecil itu?, Garis-garis di kening Mama bermuculan. “Mama dengar di Medan banyak preman. Betul nggak, Ri?”
          “Tau deh, Ma. Tari sih mendingan nggak keluar rumah kalau nggak diantar Papa atau Bang Sam. Takut.”
          “Kamu sih emang manja,” ledekku sambil pamit. Kupanggil becak yang kebetulan lewt. Di depan pasar Kampung Baru nanti aku naik sudaco.
          Tapi sial, begitu coba naik sudaco ke tempat les, aku malah terlambat. Kucari kelas 8BT dan bergegas masuk. Mentor Rudi yang mengajar matematika sudah memulaikan pelajarannya.
          “Terlambat, Dik?” sebuah suara jail menggoda. Aku cuek. Segera duduk di depan.           “Terlambat sekali nggak apa-apa asal jangan jadi kebiasaan. Karena jika jadi kebiasaan, kamu akan seperti ini jika datang UMPTN nanti,” kata Bnag Rudi. Seluruh kelas gerr.
          Wajahku merah karena merasa tersindir. Aku harus mencari sumber suara brengsek itu!
          “Nggak sholat, Dik?” sebuah suara mengganggu kesibukanku mengerjakan soal-soal. “Istirahat kan biasanya sholat.”
          Lagi-lagi Si Manis itu lagi. Kali ini dengan temannya yang berambut cepak. Ugh, rupanya dia menggodaku tadi.
          “Lagi nggak sholat,” jawabku ketus.
          “Lagi M yah, Dik?” usilnya lagi. Diikuti tawa temannya.
          “Adik, Adik, emangnya kamu kakakku apa? Sembarangan aja manggil adik!” Kututupi kejengahanku karena ketahuan rahasia bulananku.
          “Abis mungil sih. Jedes lagi!” Katanya sebelum pergi. “Hihihi apa hubungannya?” Si cepak ngakak. Si Manis ikutan ketawa dengan suara beratnya.
          Brengsek, brengsek! Aku ngomel-ngomel. Kenapa aku masuk kelas nyebelin ini? Ketemu sama si Brengsek itu lagi. Nggak dua kali deh aku numpang di kelas ini lagi. Amit, amit!
          Tapi dia kok tahu aku sering sholat Ashar di ruang sholat pas istirahat? Padahal aku nggak pernah melihat dia sholat? Mungkin aku yang kelewat cuek? Kugigit pensilku tanpa sadar.
          Sejak aku pindah ke Medan minat ngecengku jadi turun drastis. Habis nggak ada setan-setan penggoda seperti Sri cs yang maunya hura-huar melulu. Krelas tiga ini perlahan semangat belajarku tinggi. Sekolah di Medan saingannya lumayan berat. Belum lagi mikirin soal UMPTN. Mau nggak mau aku harus serius belajar.
          Sampai jadi enggak sempat lagi mikirin soal cowok.
          Beberapa hari yang lalu Sri kirim surat. Udah dapet cowok Medan belum, Ra? Kalau udah, bagi-bagi yah? Aku juga pengen untuk koleksi cowok-cowok dari Sabang sampai Merauke.
          Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri.
          “Kenapa senyum-senyum, Dik? Mulai kumat yah? Udah minum obat belum?” Cowok itu  uncul lagi. Masih dengan Si Cepak. Aku tetap tabah dengan kecuekanku.
          Si Manis itu terlihat kian manis sehabis sholat, lirikku begitu cowok itu kelihatan sibuk berdiskusi pelajaran dengan temannya. Si Cepak juga lumayan. Ohh, seandainya ada Sri, asyik kali yah ngegosip soal cowok.
          Pelajaran fisika kuikuti dengan gelisah. Aduh, gimana pulangnya! Perutku terasa semakin sakit saja. Mana harus naik sudaco lagi. Ya... beginilah risikonyya jadi cewek.
          Selesai kuis kegelisahanku bertambah. Begitu bel pulang berbunyi, aku masih duduk pura-pura sibuk menyalin catatan fisika yang tertinggal. Padahal sih sudah lengkap.
          “Belum pulang, Dik?” Si Manis menyapa. Dengan lesu aku menggeleng. Sibuk memikirkan bagaimana caranya aku pulang? Naik taxi? Hmm, takut juga. Soalnya aku belum hafal jalan. Kalau nanti dibawa kabur gimana? Dengar cerita soal kejahatan di Medan seram juga. Habis kota besar sih. Nggak kaya Singkawang yang aman, sentosa dan damai.
          Kelas sudah sepi. Tinggal aku sendiri. Aduh, aku makin bingung! Tak kuat menahan sakit perut.
          “Kenapa belum pulang juga?” Si Manis balik lagi. Mau nggak mau aku cerita juga masalahku.
          “Aku antarin kamu pulang,” dia dia mengulum senyumnya. Brengsek, sempat-sempatnya  ngeledekin lagi di saat aku kesakitan seperti ini. Tapi Si Manis ini baik juga. Buktinya, mau mengantarkan aku pulang. Tapi aku bingung, aku belum kenal Si Manis masak mau saja diantarkan pulang sih? Tapi pertolongannya amat sangat aku butuhkan....
          “Nggak percaya sama aku yah? Tenang aja deh, aku ngggak punya niat jahat. Niatku cukup baik kokpengen nolongin kamu. Daripada kamu nggak b isa pulang karena sakit, mendingankan bareng aku aja,” Si Manis seperti dapat menebak jalan pikiranku.
          “Oya, kita belum kenalan. Namaku Ferry, kamu?” Dia menyodorkan tangannya seblum mengenakan helmnya. “Tara,” jawabku rada malu. Hmmm, nama Si Manis bagus juga.
          Selama dalamm perjalanan kami kebanyakan diam. Ferry kadang-kadanh nanya arah jalan rumahku. Aku menjawab ala kadarnya karena akupun nggak hafal. Tapi untunglah akhirnya aku sampai juga.
          “Kenapa baru pulang, Ra?” tanya Mama cemas menungguku di teras. Setelah Si Manis pamit, Mama nanyain macam-macam soal dia.
          “Itu teman kamu? Kok Mama nggak pernah lihat? Hati-hati, Ra, jangan pacaran dulu. Kamu udah mau ujian.”
          Aku Cuma geleng-geleng kepala dengan kecerewetannya. Mama, Mama, ada-ada aja! Bagaimana aku akan menceritakan masalahku kalau Mama nggak ngasih kesempatan untuk bicara.
          Sejak Ferry mengantakan aku pulang, aku jadi suka melamunkan dia. Aku berusaha menghilangkan bayangannya. Tapi semakin aku berusaha, bayangannya semakin kuat mengikat. Tidak, Tuhan, jangan biarkan dia hadir di saat aku ingin serius belajar. Aku nggak ingin dia menganggu belajarku.
          Semakin kupikirkan, aku semakin gelisah. Setiap malam aku lebih banyak melamun di depan meja belajar. Tumpukan buku kubiarkan begitu saja tanpa ingin kusentuh.
          Aku resah, apakah ini hanya perasaanku sendiri. Apakah dia juga menyukaiku? Rasanya iya, buktinya dia rajin menarik perhatian dengan menggodaku ketika aku menumpang dikelasnya. Dan dia sudi mengantarku pulang. Kalau nggak ada maksud, buat apa dia buang-buang waktu untuk mengantrku pulang?
          Tapi rasanya juga nggak. Buktinya dia nggak pernah main ke sini. Kalau memang dia suka, dia bisa main ke sini mengadakan ‘pendekatan’. Toh dia telah tahu rumahku. Apa dia terlalu sibuk sehingga nggak sempat ke sini? Kalau dia mau mengantarku pulang, niatnya mungkin Cuma ingin menolong. Lain nggak.
          Aku saja yang merasa ge-er. Mengapa aku menarik kesimpulan semudah itu? Ugh, malu-maluin! Aku menarik napas kesal.
          “Kenapa, Ra, suntuk banget keliatannya?”
          Tari duduk di pinggir tempat tidur. Aku memandangnya bingung. Cerita, nggak, cerita, nggak....
          “Nggak apa-apa kok. Lagi pusing ajah mikirin kuis tadi sore,” aku pura-pura sibuk dengan soal-soal.
          “Gitu aja pakai dipikirin. ‘ntar strees lagi. Minjem catatan biologi dong, Ra, aku ketinggalan nih.”
          Untunglah Tari langsung percaya. Dengan suka cita kuberikan catatanku.
          “Cari siapa sih? Tanya Tari bingung ketika dilihatnya aku masih berdiri di depan pintu gerbang. “Nggak cari siapa-siapa kok,” jawabku gugup.
          “Kalau nggak cari siapa-siapa kenapa nggak langsung masuk. Udah dapat kelasnya belum?”
          “Belum cari. Kami duluan aja deh. Aku masih pengen di sini dulu,” untunglah Tari nurut juga. Aduh, mana tuh anak kok nggak kelihatan. Apa dia nggak ikut Test Uji Kemampuan yang diadakan dua minggu sekali, setiap hari Minggu?
          Karena lelah berdiri akhirnya aku masuk juga. Apalagi aku belum ketemu ruanganku. Mana lima menit lagi test mulai. Asuh, sempat-sempatnya nayriin dia, bukannya belajar mau tset! Mending dia juga nyariin. Aduuh, kamu kok bego banget sih Tara! Aku ngedumel dalam hati.
          “Tara,” seseorang menyapaku begitu test selesai. Aku menoleh bingung mencari sumber suara itu di antara puluhan orang berdesakan pulang.
          Ferry tersenyum manis. Kubalas dengan suka cita. Ugh, akhirnya ketemu juga.
          “Pulang sendiri?” tanyanya.
          Aku menggeleng. “Dijemput.”
          “Oke, kalau gitu aku duluan yah?” Dia berlalu begitu saja.
          Kupandangi tubuhnya yang jangkung. Cuma begini saja? Tara, Tara, rasa sukamu Cuma sia-sia. Kamu Cuma bertepuk sebelah tangan. Sudahlah, Tara, lupakan dia!
          “Kamu kenapa sih, Ra, kayak orang kebingungan gitu?” tanya Tari penasaran.
          “Nggak apa-apa kok. Tuh, Papa jemput!” aku berusaha mengelak.
          Sejak pertemuan terkahir itu, aku nggak pernah ketemu dia lagi. Aku nggak pernah menumpang lagi di kelasnya karena hampir setiap pulang sekolah ada saja kegiatan yang harus kuikuti. Praktikum biologi, les tambahan matematika dan belajar bareng dengan kelompok belajarku. Karena mengambil hari les beda, membuat kami nggak bisa ketemu. Lagi pula nggak ada gunanya, pikirku dengan hati nelangsa.
          Siang ini dandananku rapi. Blus putih, rok biru kotak-kotak dan sepatu sendal kulit. Gara-gara harus ikut sebuah acara non formil di kantor Papa, aku diwajibkan rapi oleh Mama. Dari kantor Papa aku langsung les.
          Setengah nggak percaya, kupandangi sosok jangkung yang berjalan ke arahku. Ohh, My God, Ferry! Sudah berapa lama yah aku nggak ketemu? Yah, hampir sebulan. Dan kini makhluk itu terlihat rapi seperti biasanya. Kemeja kotak-kotak putih, celana bahan biru dan sepatu kulit hitam, kemana larinya kaos oblong, jeans belel, dan cats putih?
          “Kamu kelihatan manis yang ini, Ra. Ngelamar kerja dimana?” ledeknya jail.
          “Kamu sendiri?” balasku nggak mau kalah. Dia nyengir.
          “Apa kabar?” dia memandangku lekat.
          Seketika aku gugup. “Baik-baik saja,” jawabku berusaha tenang. Aku sibuk berdoa. Ternyata aku belum dapat melupakannya. Ohh, tolonglah aku, Tuhan. “ Tara, kamu nggak apa-apa kan?” tanyanya cemas.
          Aku menggeleng lesu. Kutarik napas dalam-dalam. Menghilangkan beban dalam dadaku. Kemudian kurasakan lega.
          “Kamu ikut program intensive kan?” tanyanya setalah kami sama-sama diam. Aku Cuma mengangguk.
          “Daftar bareng, yuk! Senin depan gimana?”
          “Oke, aku setuju,” jawabku antusias. Nggak nyangka dia bakal mengajakku daftar bareng.
          “Jam 3 siang aku tunggu disini. Jangan sampai lupa, Ra. Aku pengen banget kita bisa sekelas.”
          Dia memandangku lagi. Lamaaaa. Aku rada salah tingkah juga. Tuhan, jangan buat aku salah mengambil kesimpulan lagi, pintaku serius.

BURUNG-BURUNG BETERBANGAN
Oleh : Dian Novianti
            


SEMAKIN KU PIKIRKAN, AKU SEMAKIN GELISAH. SETIAP MALAM AKU LEBIH BANYAK MELAMUN DI DEPAN MEJA BELAJAR. TUMPUKAN BUKU KUBIARKAN BEGITU SAJA TANPA INGIN KUSENTUH
          “Kamu daftar program intensive hari ini aja. Kenapa harus Senin depan sih?” kerut-kerut di kening Mama bermunculan lagi.
          “Nggak bisa, Ma. Tara udah janji sama teman.”
          “Teman? Teman yang mana, yang nganterin kamu pulang tempo hari itu? Jangan macam-macam, Tara. Mama nggak mau belajarmu terganggu gara-gara cowok.” Mama menatapku tajam.
          “Udah, Ri, kamu daftarkan Tara sekalian kalau dia nggak mau ikut. Ngapain sih harus nunggu orang lain? Nanti kalau nggak kebagian kelas gimana?” keputusan Mama nggak bisa diganggu gugat lagi.
          Karena aku telah ingkar janji, Ferry selalu membuang wajahnya setiap bertemu. Ingin kujelaskan  segalanya. Tapi sepertinya Ferry nggak mau ngasih kesempatan.
          Salahku juga. Senin itu aku nggak datang untuk menjelaskan kalau aku sudah daftar duluan gara-gara aku ketiduran. Ugh, bencinya melihat Ferry jadi berubah dingin begitu.
          “Hmmm, tumben dandan rapi?” tanya Tari curiga.
          “Boleh dong sekali-kali rapi kan acara perpisahan bimbingantest,” jawabku cuek. Kupandangi sekali lagi dandananku. Perfect, pujiku. Hmm, pasti Ferry nggak percaya kalau ternyata  aku bisa semodis ini. Iya, kalau nanti ketemu, kalau nggak? Kutarik napas dan menghembuskannya perlahan. Tuhan, beri kami kesempatan untuk bertemu trakhir klainya, please!
          Samapai acara dimulai sosoknya nggak kutemukan. Sudah berkali-kali kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru gedung pertemuan ini. Tapi nihil! Mungkin Ferry nggak datang....
          “Cari siapa sih?” Tari seperti terganggu dengan kesibukanku. “Nggak cari siapa-siapa. Cuma pengen lihat-lihat siapa tahu dapat kecengan.”
          Tari ngakak, “Mau pergi jauh aja pakai cari kecengan di sini,” ledeknya.
          “Namanya juga usaha,” balasku nggak mau kalah.
          Ohh, Tuhan, please, moga bisa ketemu. Untuk terakhir kalinya.
          “Tara,” sebuah suara memanggilku. Kuhentikan langkahku. Aku tahu itu suara Ferry. Seluruh persendian kurasakan lemas. Terimakasih, Tuhan, kau dengar doaku.
          “Ri, tunggu aku dimobil,” Trai menoleh dengan seribu tanda tanya. Tapi dia menurut juga.
          “Aku pikir kamu nggak datang,” kutatap sejenak mata kelamnya. Lalu menunduk nggak berdaya.
          “Aku duduk di balkon atas,” suaranya terdengar bergetar.
          Ohh, Tuhan, apa yang akan terjadi? Pikirku bingung. Jangan ada story apa-apa, Tuhan. Aku akan pergi jauh. Aku akan meninggalkannya. Aku nggak akan ketemu lagi.
          “Maafkan kelakuan konyolku beberapa waktu yang lalu. Aku hanya benci kamu bohonh.”
          “Nggak apa-apa kok. Aku yang salah. Nggak seharusnya ingkar janji. Seandainya aja kamu tahu.....”
          “Udah deh nggak usah dibahas lagi. Udah lewat ini,” tertawanya terdengar perlahan.
          “Kamu mau melanjutkan kuliah dimana, Ra?” tanyanya setelah kami terdiam kesekian menit.
          “Kamu?” aku balik bertanya.
          “Disini aja. Mudah-mudahan sih dapat FK USU,” jawabnya. “Kamu Ra, di USU juga kan?”
          Kutenangkan diri sebelum aku menjawabnya. Ohh, Tuhan, mengapa aku merasa nada suaranya penuh harap? Mudah-mudahan pendengaranku yang salah. Aku nggak ingin ada story di atantara kami sebelum aku pergi. Cukup sebuah rasa suka yang perlahan akan menghilang.
          “Papa ingin agar aku dan saudara kembarku di Australia. Menurut Papa agar kami bisa mandiri.”
          “Tapi kamu tetap  bisa liburan ke Medan kan, Ra?” tanyanya terbata-bata. Mungkin dia nggak nyangka aku akan pergi juah.
          “Kita mungkin nggak bisa ketemu lagi, Fer. Papa dipindahkan lagi ke Jakarta. Kemungkinan kami nggak balik lagi ke Medan.”
          “Jadi kita berpisah?” tanyanya seperto nggak rela.
          Dengan berat aku mengangguk.
          “Selamat jalan, Ra.”
          Ketika kuangkat wajahku, kulihat ada kesedihan di wajahnya. Aku sendiri telah merasakan kesedihan yang sama sejak menit-menit lalu.
          “Terima kasih semoga kamu sukses,” aku mencoba tersenyum tabah.
          “Kamu juga,” dia membalas senyumku dengan senyuman yang teramat manis.
          Kupandangi sekali lagi wajahnya sebelum Bang Sam menstater mobil. Selamat tinggal, Fer. Bergegas kukeringkan air mata tuntas tanpa sisa. Toh nggak ada gunanya. Aku harus menghadapinya dengan tabah.

          Kupandangi burung-burung yang beterbangan dari balik jendela mobil. Burung-burung itu seperti aku dan Ferry yang mempunyai kehidupan sendiri-sendiri. Mengarungi cakrawala luas. Seperti kehidupan kami yang masih panjang. Yang masih memiliki ribuan episode yang berbeda. Pertemuanku dengan Ferry Cuma episode yang harus kami hadapi. Dan meninggalkannya seperti buku catatan hati yang harus di tutup rapat-rapat. Tanpa di buka lagi.

Jumat, 19 September 2014

Surat Untuk Mei




MEI, masih ingat tidak? Ade sahabatmu waktu jaman SD dulu? Pasti kamu lupa deh, tapi Ade tetap inget kamu kok, Mei.
                Mei, Ade  masih nyimpen foto kamu, Molin dan Anti. Kamu masih inget moli dan Anti kan? Kita berempat waktu itu kompak banget. Walau kita punya sifat yang berbeda-beda tapi itu menghalangi  persahabatan kita.
                Kamu pendiam dan pemalu sedangkan Ade tomboy dan suka bercanda. Molin kalem tapi tukang ngocol juga. Anti lincah dan senang bergaul dengan siapa saja.
SURAT UNTUK MEI
                Kamu gadis yang tercantik dan terpandai di kelas. Tapi itu tidak membuat kamu sombong justru kamu tidak suka menonjolkan diri.
                Kita suka belajar bareng. Ngerjain pr, hapalin peta buta, tanya-jawab pengetahuan umum dan latihan soal-soal. Waktu jajan malah kita isi dengan membaca buku-buku di perpustakaan.
                Jika Agus, anak dari sekolah sebelah, datang menggodamu. Wajahmu yang putih dan lembut pasti kamu tutp dengan saputangan sanrio-mu. Tapi itu malah membuat Agus tambah gencar menggodamu bersama teman-temannya.
                Kalau kamu sudah kesal pasti air matamu jatuh satu-satu. Ade, Molin, dan Anti menarik tanganmu dan jauhkan diri dari Agus dan teman-temannya. Ade mengancam akan mengajak Agus berantem jika dia masih saja menggodamu.. hihihi Ade sok macho juga yah, Mei?
                Tapi persahabatan kita tidak dapat berlangsung lama karena ketika naik kelas lima kamu pindah ke Manado. Sebelum kamu pergi, kita saling tuker kado. Waktu itu Ade yang yang tidak punya uang, terpaksa Ade kasih aja foto Ade sebagai kenang-kenangan untuk Mei. Ade masih ingat Mei ngasih pensil dan kertas surat dengan gambar lucu yang sampai sekarang masih Ade simpan.
                Biar kamu sudah pindah, Mei, tapi kita masih terus berhubungan melalui surat. Kebetulan Ade suka nulis surat. Melalui surat kita bercerita macam-macam. Terutama suasana baru kamu di Manado.
                Tapi sejak kamu pindah ke Jakarta lagi, Ade kehilangan alamat kamu yang baru. Ketika naik kelas dua SMP, Ade surprais melihat kamu terpilih jadi finalis model di sebuah majalah remaja. Ade tidak menyangka ternyata kamu minat di bidang model. Ade lihat kamu berubah. Kamu tidak kelihatan pemalu lagi. Kamu sudah mempunyai rasa percaya diri yang kuat.
                Sekarang kamu sudah beken menjadi foto model. Wajahmu ada dimana-mana. Di cover majalah, ruang kecantikan, halaman mode sampai berbagai iklan. Dari shampoo, coklat, t-shirt sampai produk kecantikan.
                Waktu kamu dijadikan profil oleh sebuah majalah remaja. Ade semakin kagum denganmu. Karena walau kamu sudah menjadi foto model yang beken kamu tetap mengutamakan sekolah. Walau jadwal kamu sibuk oleh pemotretan, ikut acara jumpa fans ke kota-kota besar di Indonesia, dan wawancara, tapi kamu tidak pernah bolos sekolah. Kamu tetap punya waktu ikut les balet dan aktif di OSIS. Ade cuma geleng-geleng kepala bagaimana kamu dapat membagi waktu dengan baik? Padahal Ade sendiri cuma aktif di mading dan menulis cerpen tapi rasanya sudah capek banget. Apalagi kamu yang punya kegiatan segitu banyak?
                Kadang Ade suka iri dengan nasib kamu, Mei. Kita sama-sama sahabatan waktu SD tapi siapa sangka sekarang kamu jadi foto model beken sedangkan Ade cuma anak sekolah biasa yang tidak punya kelebihan apa-apa. Waktu Ade ceritain perasaan Ade ke Meta, sahabat Ade sekarang mau tahu tidak Meta bilang apa? Dia bilang gini:
“Ade, Ade, seharusnya kamu juga merasa beruntung punya bakat menulis. Nggak setiap orang di kasih bakat seperti kamu. Seharusnya kamu malah bersyukur dengan kelebihan yang kamu milikii. Jangan suka membandingkan dengan kelebihan orang lain deh bakal buat kamu merasa nggak berarti apa-apa.”
                Kalau di pikir-pikir betul juga ya Mei?
                Oya, Ade mau cerita tentang hobi menulis, Mei masih ingat tidak aktu SD dulu Ade suka mengarang. Kalau pelajaran mengarang pasti deh temen-temen minta Ade buatin karagan mereka. Ade si tidak keberatan soalnya Ade suka mengarang.
                Nah, sejak Ade masuk SMP 56, Ade tertarik ikutan jadi pengurus mading. Dari situ Ade banyak belajar buat cerpen. Banyak yang bilang kalau cerpen Ade lumayan enak di baca. Ade jadi berani ngirimnya ke redaksi remaja. Alhamdulilllah, sampai sekarang cerpen Ade suka dibuat. Lumayan uangnya bisa Ade beliin mesin ketik dan nraktir teman-teman di AHA blok M.
                Sebetulnya sudah berapa kali Ade kirim surat untuk Mei. Ade dapat alamat kamu dari majalah yang memuat profil kamu. Mungkin di pikirnya Ade cuma salah satu fans-mu yah, Mei? Pasti deh bukan kamu yang ngurusin surat-surat yang segitu banyaknya? Mikir gitu Ade tidak kecewa. Ade malah pengen ngajakin Molin dan Anti ke rumah kamu yang baru. Tapi Anti tidak mau. Dia bilang males jauh-jauh ke rumah kamu, kamunya juga sibuk melulu. Kalau Molin lain lagi. Dia bilang kamu bakalan sudah lupa dengan dengan persahabatan kita dulu. Dia bilang pasti kamu sudah sombong. Soalnya kan sudah beken. Sudah terkenal.
                Tapi Ade tidak setuju dengan pendapat Molin. Bagi Ade kamu tetap Mei  yang Ade kenal selama beberapa tahun yang lalu. Lembut, pemalu, pendiam, dan tentu saja cantik. Karena itu Ade bela-belain main ke rumah kamu.
                Dengan diantar Pak Min, Ade cari rumah kamu. Begitu ketemu, kamu ternyata kamu sedang mengikuti pemotretan sebuah iklan sepulang sekolah. Ade tinggalkan saja nomor telepon Ade. Dengan pesan kalau kamu punya waktu kontak Ade lewat telepon.
                Tapi beberapa mingggu Ade tunggu, kamu tidak nelpon-nelpon juga. Perlahan Ade merasakan kekecewaan juga. Tapi Ade menghibur diri, mungkin saja pesan dan nomor telepon Ade tidak sampai ke tangan kamu, atau mungkin kertas itu hilang. Atau mungkin kamu kelewat sibuk sehingga tidak sempat nelpon Ade.
                Waktu itu Ade diantar Meta ke sebuah redaksi majalah remaja. Ade mau ngambil honor cerpen Ade yang di muat, sekaligus nganterin naskah cerpen Ade.
                Setelah mengambil honor di ruang tata usaha, Ade naik ke tingkat dua nemuin Mbak Yani untuk nyerahin naskah cerpen Ade. Sedangkan Meta tunggu di luar.
                Mbak yani dengan ramahnya mempersilahkan Ade nunggu di ruang tunggu. Dia kelihatan sibuk meladeni telepon-telepon yang masuk. Tiba-tiba saja Ade melihat kamu sedang di potret di sebuah ruangan. Ade surprais banget saking surpraisnya dengan cuek Ade masuk ke ruang itu.
                “Mei...” panggil Ade pelan. Kamu yang tengah sibuk memperhatikan seorang pengarah gaya memberikan petunjuk, menoleh ragu-ragu.
                “break!!” seorang memberi aba-aba di balik kamera. Kamu menghampiri Ade.
                “kamu yang memanggilku tadi?” tanya kamu ragu-ragu. Ade mengangguk kuat-kuat. Seperti ada yang meledak dalam dada Ade.
                “aku Ade, Mei,” kata Ade dengan nada bergetar saking bahagianya bisa bertemu lagi dengan kamu, Mei. Oh, mimpi apa Ade semalam!
                “Ade.. Ade yang mana ya?” kamu kelihatan bingung. Sibuk berpikir. Kebahagiaan itu langsug lenyap, Mei. Ada kecewa. Ternyata kamu telah melupakan persahabatan kita begitu saja.
                “aduhhh, sorry yah, Mei melupa. Mei tinggal dulu ya, soalnya pemotretan sudah mulai lagi. Yuk, sampai ketemu lagi,” kamu pamit dan kembali lagi ke ruang pemotretan itu.
                Ade betul-betul sedih, Mei. Kenapa kamu setega itu? Tapi mungkin bukan salah kamu juga. Mungkin Ade saja yang suka mengingat-ingat persahabatan kita dulu. Ade saja yang terlalu bangga punya teman sebeken kamu. Padahal kamu sendiri sudah lupa. Sudah tak ingat lagi dengan Ade.
                Sampai di bawah Ade menemui Meta dengan perasaan kecewa. Di bis, Ade tumpahkan rasa kecewa Ade terhadap kamu.
                “udahlah, De jangan terlalu di pikirkan. Persahabatan kalian sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Tidak setiap orang bisa mengingatnya dengan baik. Apalagi wajah dan penampilan orang pasti berubah kan? Siapa sangka Ade yang waktu kecil tomboy, sekarang menjadi gadis manis yang nggak tomboy lagi. Mei pasti pangling,“ nasehat Meta sabar.
                Ade terdiam lama. Begitu Ade resapi kata-kata Meta, Ade pikir betul juga. Padahal tadi Ade sudah mikir yang negatif soal kamu. Ade pikir kamu sombong banget sampai melupakan Ade, mentang-mentang sekarang sudah menjadi foto model yang beken, sudah tidak mau kenal Ade lagi.
                Padahal siapa tahu kamu benar-benar sudah lupa.

                ***
DI majalah remaja edisi baru, cerpen Ade dimuat. Di halaman yang lain, gaya kamu modis dan ceria terlihat pas memperagakan baju-baju modis remaja.
                Kita memiliki dunia yang berbeda, Mei. Karena bakat kita berbeda. Kamu ditakdirkan menjadi foto model yang beken sedangkan Ade dikasih Tuhan untuk bisa menuangkan ide-ide Ade dalam sebuah cerita pendek. Tapi biar begitu Ade mensyukuri banget bakat yang Ade milki.
                Walau kemaren Ade sedih banget karena ternyata kamu telah melupakan persahabatan kita dulu. Tapi sekarang Ade sudah bisa nerima. Ade maklum kok. Mungkin kamu kelewat sibuk sehingga tidak sempat mengenang masa-masa kita dulu.
                “De, baca di halaman ‘surat-surat’ deh, ada surat khusus buat kamu dari Mei” Meta datang dengan edisi sebuah majalah remaja berikutnya.
                “Ada apa sih, Met?” tanya Ade penasaran. Meta menunjukan surat yang dimaksud.
               Bersama surat ini Mei ingin meminta maaf untuk sahabat SD Mei bernama Ade damaiyanti. Waktu itu kita ketemu di redaksi. Mei enggak nyangka kalu gadis manis yang menyapa Mei ternyata Ade, sahabat Mei dulu. Soalnya dia dulu tomboy banget. Ade, kontak Mei yah Mei tunggu lho!
                Meita Andrisani

                Ade menatap tulisan itu tidak percaya. Tapi benar, kamu telah menulisnya untuk Ade, Mei, permintaan maaf kamu telah Ade terima. Lagipula kamu tidak salah kok, Mei.
                Di atas meja belajar Ade ada bingkai foto berisi foto kita berempat. Kamu Ade, Anti dan Molin kelihatan lucu mengenakan pakaian daerah waktu hari kartini-an.
                Tanpa sadar Ade tersenyum memandangnya lama. Sekaligus bahagia ternyata milik Ade yang hilang kini telah kembali lagi.
*****

Bunga Mawar Buat Alin






Bunga Mawar Untuk Alin
Oleh: Dian Novianti

Alin mengenakan celemeknya. Siang ini dia tugas melayani pengunjung yang dateng ke Cafe Blue. Cafe milik mamanya. Sejak papa meninggal setahun yang lalu , Mama mencoba usaha baru. Dengan membuka Cafe Blue ini.

“Nih, bawa ke meja nomor lima,” Mama menyodorkan nampan berisi sepotong croissant dan segelas milkshake. Alin membawakannya ke depan.

“Hai, Dit, mau makan juga?” sapanya kepada seorang cowok bertubuh tinggi kurus yang baru masuk ke cafenya masih dengan seragam putih abu-abu. Dito membalas lambaian tangan Alin.

Dito memilih tempat di pojok cafe. Seperti biasanya.

“Mau pesen apa nih ?” Tanya Alin ramah yang udah siap dengan pulpen dan kertas pemesanan di tangannya.

“Ada bakso enggak?”

Alin nyengir. Dia tau Dito suka bercanda. Dito lalu memesan burger dan rootbear yang di campur milk.

“Nih, silahkan disantap lah yaw…” Alin membawa pesanannya. Dilihatnya Dito udah asyik dengan itungan integral-nya. “Ada pr, Dit?”

“Iya nih, Lin. Bisa tolongin gue enggak?” Alin mengedarkan pandangannya. Kebetulan cafe lagi sepi. Cuma ada Dito dan beberapa pengunjung. Dilihatnya Mbak Keke lagi terkantuk-kantuk di meja kasir.

“Ooo, gini aja kok. Kebetulan gue udah selesai ngerjainnya kok,” Alin merendahkan diri begitu di puji ama Dito. Dito mengangguk-ngangguk kagum. Gimana enggak kagum, Alin cepet banget ngerjainnya. Sementara  dia tadi, kayaknya susaaaaah banget.

“Jadi guru les gue aja deh, Lin”, Dito ngerjain soal yang lain.

“Boleh. Tapi bayarannya mahal lho.”  Canda Alin. Dito ngakak

“Lin, gue cabut dulu yah? Pr matematik dan kimia udah kelar. Makasih banyak lho atas bantuan lo, Lin besok siang gue balik lagi. Oya, semuanya jadi berapa?” Alin mengambil bill milik Dito.

“Burger, rootbear, es krim dan pizza,” Alin geleng-geleng kepala. Enggak nyangka makan Dito banyak juga. Dito nyengir .Dibanyarnya makanan itu.

Walau capek Alin dengan gesit menyerahkan uang itu ke Mbak Keke. Lalu dibereskan meja bekas Dito. Sekelompok mahasiswa memanggilnya dari meja nomer tujuh. Bergegas Alin menuju meja itu sudah siap dengan pulpen dan kertas pemesanan.

“Alin mana, Mbak?” Tanya Dito pada Mbak Tesa, kakak Alin yang lain.

“Belon pulang. Ada praktikum kimia. Mau pesen apa?” Lain banget ama Alin yang ramah, kakanya rada judes. Terpaksa Dito memesan nasi, fried chicken dan teh botol. Walaw dia lebih suka kalo Alin yang layanin.



“Pulangnya jam berapa Mbak?” Tanyanya begitu Mbak Tesa membawakan pesanannya.

“Bentar lagi kali,” jawabnya singkat lalu sibuk dengan pengunjung yang lain.

Dengan lesu Dito menikmati makanannya. Sejak ada Cafe Blue deket sekolahnya Dito lebih suka makan siang di sini. Apalagi sejak dia temenan ama Alin yang pinter dan ramah itu. Kayaknya enak belajar diteemenin Alin. Ketimbang di rumahnya yang gede tapi kosong melompong karena pemiliknya sibuk ama urusan masing-masing. Papa dengan proyeek-proyeknya, Mama dengan usaha salon kecantikan ama kuliah atau pacaran.

Apalagi kalo dibandingin anak-anak yang lain. Jam segini sih banyak yang udah menikmati tidur siangnya lalu entar sore udah bermodis ria dengan gank-nya ngeceng ke mal-mal. Ngabisin duit ortunya dengan mkan-makan di resto mahal atau nonton di Twenty-One yang sekali nonton bisa ngabisin uang jajan dan transport Alin seminggu...

“Hai, bengong aja,” Alin udah berdiri di depannya. Dia udah pake kaos oblong, jins belel dan celemek Cafe Blue yang kotak-kotak merah.

“Abis praktikum, Lin?” Dito menghabiskan makanannya. Alin mengangguk. Dia lalu pamit karena dipanggil oleh sekelompok anak SMA yang kayaknya lagi ngerjain ultah temennya.

“Sibuk, Lin?” Dito begitu Alin selesai bolak-balik memenuhi pesanan anak-anak SMA itu. Walau keliatannya lelah tapi Alin tetep kelihatan ceria mengumbar senyum manisnya.

“yaaah, biasa deh. Ada pr apaan nih, Dit?” Alin duduk dan mengambil bukunya.

“Suruh bikin karangan. Gila, Lin, gue paling sebel kalo dgisuruh bikin karangan. Abis enggak bisa-bisa.”

“Bisa gue bantuin kok. Temanya tentang apa?” Tanya Alin tertarik. Ditto menunjukan temanya.

“Kapan sih dikumpulin? Entar gue bantuin deh. Kebetulan gue ska nulis.” Dito bengong. Udah sibuk ama sekolahnya, kerjaan di cafe sempet-sempetnya bikini dia karangan.

“ enggak ngerepotin kan?” Tanya Dito enggak enak ati begitu Alin datatang membawakan pesanan milkshake-nya.

“Engga kok. Suer!” Alin berusaha meyakinkan. Dito tersenyum mengucapkan terima kasih.

“Lo kayaknya rajin banget belajar deh, Dit. Enggak kayak anak lain yang lebih suka jalan main ama teman-temannya. Ke mal-mal, nongkrong di resto-resto atau kemana lah gitu. Tapi lo kok malah berajin ria ngerjain pr atau kalau engga soal-soal?”

“Gue pikir mumpung gue kelas 1 gue kudu belajar sampe entar kelas 3. Kan enak kalo seandainya bisa dapat PMDK. Enggak susah-susah cari sekolah lagi.”

“Emang iya sih. Mas Tio tetangga gue juga bilang begitu. Apalagi kalo kita mau ikutan UMPTN harus rajin dari kelas 1. Biar entar kalo kleas 3 enggak stres lagi kudu nyicil be;ajar kleas 1 dan 2. Iya, tapi kalo mau ikutan UMPTN sih. Kali gue kayaknya ngimpi deh bisa kuliah. Nyokap gue udah ga sanggup lagi. Kakak gue aja yang asi kuliah ada dua orang . mbak Neta dan Mbak Tesa. Belun lagi taon depan Mba Keke pengen banget kuliah di kedokteran. Gue ngalah aja deh. Mendingan gue bantu nyokap aja ngejalanin usaha cafe ini,” suara alinbiasa aja. Enggak adanada kesedihan atau minder. Diem-diem Dito kagum ama Alin.

“Tapi lo kan pinter, Lin. Kayaknya sayang banget kalo lo enggak manfaatin kepinteran lo itu. Lo kan bisa milih UI. Kalo di negeri kan biaya lebih , murah.”


“Ahhh, sama aja, Dit. Kakak gue aja kuliah di UI, uang kuliahnya enggak beda ama kuliah yang di swasta. Engga apa-apa kok, gue engga mau ngerepotin nyokap,”

Dito Cuma mengangguk-ngangguk. Dia gatau mau ngomong apa lagi. Kasihan juga Alin. Mau kuliah aja susah. Coba bandingin ama temen-temennya yang udah ngumpulin brosur-brosur sekolah diluar. Padahal Dito enggak yakin kalau mereka akan serius kuliah disana. Wong di sini aja mereka kebanyakan hura-hura ketimbang mau belajar.

“Mbak, boleh nanya enggak?” Tanya Dito ragu-ragu begitu Mbak Neta membawakan pesanannya berupa spaghettydan Coca Cola. Alin belon pulang sekolah. Katanya kemarin sih dia harus ikut pelantikan anggota baru pengurus mading. Yap, Alin ikutan pengurus madding di sekolahnya.

“Nanya apa?” Tanya Mbak Neta ramah. Dibandingkan kakak-kakak Alin yang lain, Mbak Neta mirip alin. Ramah dan doyan becanda.

“Ultah Alin kapan sih, Mbak?” Wajah Dito langsung merah begitu Mbak Neta senyum-senyum.

“Bulan ini juga. Tapi nanti tanggal 27. Kenapa, mau ngasih kado?”
Dito cuma senyum-senyum aja. Begitu Alin pulang, Dito minta ditraktir kalo entar Alin ultah.

“Kok tau aja sih?” bibir mungil Alin cemberut. Pura-pura marah. Justru kalo lagi gitu, bikin Alin tambah manis.

“pasti nanya ke Mba Neta deh.”

“Emangnnya gak boleh?”

“Percuma kalo gak ngasih kado,” canda Alin keluar lagi. Dito ngakak.

“Emangnya kalo lo ultah mau dikasih kado apaan?”

“Aduhhh, gue anggak tau deh. Abis enggak ada sih tradisi ngasih kado kalo ultah di keluarga gue. Paling-paling cuma ngasih selamet terus cuma cium pipi doang. Selebihnya paling-paling makan bareng keluarga doang, itu aja kok. Kalo lo gimana, Dit?”

“Lo lebih jauh beruntung daripada gue, Lin. Di keluarga gue mana ada sih yang inget ultah gue. Kita terbiasa jalan sendiri-sendiri,” ada kesedihan di mata kelam itu. Alin jadi enggak tega. Berusaha nyari pembicaraan yang lain.

“DIT, sini deh,” panggil Mbak Neta begitu Dito mau masuk ke Cafe Blue. Mbak Neta narik tangannya ke samping cafe, “Ada yang mau Mbak omongun nih.”

“Apa ada, Mbak?” Tanya Dito bingung. “tadi siang Mbak iseng-iseng, Mbak Net abaca buku kumpulan puisi Alin. Di halaman terakhir dia nulis dengan dikirimin mawar pas ultahnya oleh siapa ya?” Mbak Neta pura-pura mikir. Dito jadi senyum-senyum  “pokoknya orang yang someone special deh di hatinya.”

“Terus, tujuan Mbak ngomongin ke saya apa?” Dito ingin ngebales kelakuan Mba Neta tadi.

“Enggaaaak, Cuma ngasih tahu doang. Syukur-syukur Dito nangkep maksud Mbak. Kalo masihenggak juga, sayanglah cakep-cakep bego,” keduanya kompak tertawa.

Suer, Dito seneng banget punya kakak kaya Mba Neta. Seandainya Mbak Ira kayak Mbak Neta ini, duuuh, alangkah senengnya.

Pagi-pagi Alin bangun seperti biasa walu hari ini dia ultah, dia tahu engga ada yang special dari tahun-tahun yang lalu. Malah lebih menyedihkan. Soalnya engga ada kecupan sayang dari papa…

“Met ultah ya, sayang, “Mbak Neta menghambut masuk ke kamarnya. Diciumnya kedua pipi adik tersayangnya. “Sori nih enggak bisa ngasih apa-apa. Ngerti sendiri kan, ;agi bokek berat nih,” Alin mengangguk Di. Dia udah negrti kok.

“Tapi mbak bikin sarapan pagi yang special. Pizza rending kayak yang di California pizza itu. Rasanya enggak kalah deh. Buruan deh mandi sana!” Air mata jatuh di pipinya waktu mandi. Dia ngerasa terharu banget dengan perhatian kakaknya.

Tengah dia menikmati sarapan bersama Mamah dan Mbak Neta. Mbak Tesa udah buru-buru berangkat ke kampusnya dan Mbak Keke udah dijemput untuk berangkat sekolah bareng, tiba-tiba aja bel berbunyi nyaring. Siti, pembantu mereka membukakan pintu.

“Non Alin, ada kembang buat Non Alin teriak Siti, Alin  bergegas ke depan. Di tangan Siti ada beberapa kuntum bunga mawar merah yang masih basah kelopaknya. Bunga-bunga itu dibungkus plastik cantik.

“Dari siapa?” Tanya Alin bingung begitu menerima bunga itu dari Siti. Dilihatnya kertas mungil yang berisi kata-kata dan nama pengirimnya.

Met ultah ya, Lin. Moga tetepp jadi ‘temen’ baik gue.

“Dito?” alis Alin yang bagus terangkat tinggi-tinggi. Terdengar ketawa cekikikan dari arah meja makan. Brengsek, ini pasti kerjaan Mbak Neta.

“Mbak, pasti baca buku puisi Alin terus ngomongin ke Dito. Ahhh, Mbak Neta nih malu-maluin aja.” Belum sempat Alin ngerjar Mbak Neta yang siap-siap mau kabur ke dapur, telepon bordering nyaring.

“Alin, ada telepon dari Dito,” teriak Mama. Mbak Neta melemparkan senyum centilnya. Alin bergegas menerima telepon itu, tiba-tiba jantungnya enggak karu-karuan. Rame banget. Bergemuruh. Bercampur dengan rasa bahagia.
****