Rabu, 25 Juni 2014

Melukis Impian

Apakah kita bisa melukis kembali impian-impian kita dulu? setelah sebagian warnanya telah usang dan bentuknya tak utuh lagi.
Apakah kita bisa merangkai kembali bunga-bunga mimpi kita dulu? setelah sebagian kelopaknya telah patah dan daun-daunnya mengering tertiup angin.
Apakah kita bisa menata kembali ribuan asa kita dulu? setelah harapan itu pupus dan telah berubah menjadi rinaian airmata karena kepedihan.
Ribuan hari telah tertinggal di belakang kita. Akankah kita terdiam sejenak dan kemudian berlari menembus halimun yang datang samar-samar.
Wangi pagi hari menyergap kita membuat kita sedikit tersenyum. Wanginya membuat kepedihan itu sedikit hilang.
Kita terus melangkah, jejaknya meninggalkan ribuan kenangan yang telah usang..

Selasa, 24 Juni 2014

Mimpi Nayla


MIMPI NAYLA
Oleh: Dian Novianti

          Nayla menatap senja dari balik jendela kamarnya. Senja kali ini berwarna biru keabu-abuan. Tampaknya sebentar lagi hujan akan turun. Nayla bersyukur. Dia selalu menyukai suasana hujan. Mencium bau udaranya yang khas seraya memandangi rinai hujan yang menari-nari seperti melagukan sebuah tembang sendu.
          Tak sengaja, matanya menatap kalender yang berada di samping jendela, 27 Mei 2004. Betapa cepat hari-hari berganti. Rasanya baru kemarin dia sibuk menyusun bab demi bab skripsinya. Mempersiapkan sidang, wisuda lalu menerima tawaran untuk menjadi tenaga pengajar di kampusnya. Betapa cepat waktu berlalu. Tak terasa hampir sepuluh tahun. Berapa banyak yang sudah dia lakukan dalam kurun satu dasa itu?
          Menyelesaikan pendidikan strata dua yang diperolehnya dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta dalam bidang sistem informasi. Hari-harinya selalu dipadati dengan mengajar, mengadakan penelitian atau sekedar mendengarkan berbagai keluhan atau persoalan para mahasiswanya.
          Nayla seorang pendengar yang baik. Dia selalu dapat menyediakan waktu yang tersisa itu untuk mahasiswa-mahasiswanya. Mencarikan jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Dari keuangan, akademik, kampus sampai masalah pribadi. Tidak sedikit dari mereka sudah menikah, sehingga mereka sering sharing mengenai kehidupan rumah tangga mereka.
          Dari cerita-cerita mereka, kadang menimbulkan keinginannya untuk menikah. Kadang dia mengkhayal, seperti apa rasanya menikah, punya keluarga. Suaminya pasti seorang laki-laki yang tampan, smart dan sabar. Apakah dia bertubuh jangkung, berkulit putih bersih dengan wajah kejawa-jawaan? Seperti Irgi...kah?
Tiba-tiba lamunannya mengarah pada sesosok laki-laki muda, yang telah menemani hari-harinya hampir sedasa ini. 10 tahun? Tanpa sadar Nayla menggeleng, betapa lamanya. Betapa kuatnya dia memendam perasaannya selama ini.
Dia dan Irgi bersahabat mulai dari hari pertama mereka masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di daerah Margonda, Depok. Mulanya, Bu Kristin menugaskan mereka untuk mengkoordinir kegiatan para mahasiswa di kelas mereka. Entah yang berkaitan dengan tugas, diktat kuliah, pendaftaran ulang awal semester, pengumpulan Kartu Rencana Studi, pembagian Daftar Nilai, penjadwalan Semester Pendek dan lain-lain.
Tadinya Nayla tidak menyadari bahwa perasaannya telah berubah terhadap Irgi. Betapa selama ini dia terkesan dengan kebaikan, perhatian dan ketulusan Irgi padanya.
Nayla tidak pernah berani bertanya sedikit pun tentang perasaan Irgi terhadapnya, yang dia tahu bahwa Irgi tidak menyukai wanita berumur lebih tua darinya. It’s fact, umurnya dua tahun lebih tua dari Irgi. Karena itu dia tidak pernah berani berharap. Menanam asa pada laki-laki Jawa itu. Kalaupun Irgi menyayanginya, Nayla tahu, itu tidak lebih dari sekedar sahabat.
Di usianya yang tidak muda lagi, terkadang terbesit keinginan untuk memiliki sebuah keluarga. Memiliki sepasang anak yang lucu-lucu. Laki-laki dan perempuan. Pasti mereka setampan ayah dan secantik ibunya. Walau Nayla sering menempis keinginannya itu. Dia sadar, Tuhan belum berkenan memberikan pendamping hidupnya hingga detik ini. Dari sekian banyak keberkahan dan kemudahan yang Tuhan telah berikan padanya, hanya satu kekurangannya menjadi seorang wanita, yaitu menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anaknya.
          Hingga usianya diambang 32 tahun, dia masih betah melajang. Sementara kedua adiknya telah ‘menghadiahkan’ cucu-cucu yang lucu untuk kedua orang tuanya. Nayla menerima semuanya dengan ikhlas. Karena dia menyadari, inilah jalan kehidupan yang harus dia jalani.
          Untunglah orang tuanya tidak pernah memaksanya untuk segera menikah. Mereka membiarkan Nayla untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Mereka hanya menginginkan Nayla bahagia. Hanya itu.
          Bahagiakah dia? Nayla tergelitik dengan pertanyaan batinnya. Sambil memandangi suasana senja yang makin redup dan dihiasi rintik-rintik hujan, dia membiarkan pikirannya menerawang kemana-mana.
          Sejujurnya dia bahagia. Dia memiliki kehidupan yang mapan. Rumah mungil, kendaraan roda empat yang dibelinya secara kredit dan karirnya sebagai seorang dosen yang menjanjikan. Dia bersyukur, selama dia kuliah hingga kini, dia merasa tidak pernah menyusahkan orang tuanya. Ketika kuliah, dia sudah hidup mandiri dengan bekerja sambil kuliah. Begitu lulus, dia langsung bekerja. Melanjutkan pendidikan ke S2 pun gratis. Semua biaya ditanggung pihak universitas, tempatnya mengajar
          Di Jakarta, dia tinggal sendiri. Orang tua dan kedua adiknya tinggal di Bandung. Karena hidup sendiri, dia hidup prihatin. Gajinya  tiap bulan dia tabung hingga dia berhasil membeli sebuah rumah mungil di pinggiran Depok, lima tahun yang lalu. Di waktu libur pun, dia manfaatkan dengan mengajar di kampus lain. Selain menambah penghasilan, dia berharap dengan kesibukannya itu, dapat mengurangi kesepian dalam hidupnya.
Suara adzan Maghrib menyadarkan lamunan panjangnya. Di luar, suasana semakin redup. Semakin muram. Senja telah pergi. Hujan turun semakin lebat. Angin malam menusuk-nusuk kulitnya yang putih bersih. Nayla bergegas menutup jendelanya.
*****

Suatu malam Nayla bermimpi.
Dalam mimpinya, Nayla mendapatkan seorang bayi laki-laki yang lucu. Kulitnya putih bersih, wajahnya tampan seperti…Irgi. Tangannya yang mungil melambai-lambai ke arahnya. Seperti memanggilnya. Nayla ingin menggendongnya.
“Bayinya minta digendong, Bu,” seorang perawat menyodorkan bayi mungil itu ke hadapannya.
“Tapi tubuh saya masih lemah, Mbak,” Nayla menolak dengan perasaan iba melihat bayi itu, yang terlihat kehausan minta minum darinya.
“Biar saya gendong, Mbak,” seseorang datang menawarkan bantuan. Ketika Nayla menoleh, mencari sumber suara tadi. Ternyata…Irgi. Laki-laki itu…Tuhan, apakah Engkau telah ‘menyulap’ umurku dua tahun lebih muda darinya hingga Irgi berkenan melamarku menjadi istrinya?
Selama ini dia berharap agar suatu saat Irgi akan melamarnya. Walau dia menyadari, Irgi tidak menyukai wanita yang lebih tua darinya. Menyadari itu membuat hatinya sedikit terluka, namun dia belum dapat menghapus bayang-bayang Irgi dalam kehidupannya.
Di mimpi yang lain, Nayla merayakan ulang tahun si kecil bersama Irgi di sebuah pesantren bersama para santri. Si kecil terlihat bahagia menggapai-gapai kue ulang tahunnya berbentuk tokoh angry bird . Irgi mengeceup pipi montoknya. Nayla tersenyum sumringah menggendong buah hatinya.
Malam yang lain, Nayla kembali bermimpi.
Mereka sedang berada di sebuah taman bunga yang indah. Berbagai jenis bunga memenuhi hampir seluruh isi taman itu. Bunga mawar, krisan, tulip, anyelir, alamanda, sedap malam dan lain-lain. Warnanya indah-indah, membuat Nayla ingin memetik salah satunya.
Nayla menggandeng tangan seorang anak laki-laki. Tanpa terasa bayi itu telah berusia 3 tahun. Dia laki-laki yang sangat tampan. Berambut ikal, hidung mancung, bibir tipis dan berkulit putih bersih. Dan di sebelahnya, Irgi memeluk bahunya erat. Mereka berjalan beriringan. Menikmati suasana taman yang indah.
Tiba-tiba gerimis datang. Mereka berlarian menyelamatkan diri. Hujan turun makin lebat. Nayla tak dapat melihat dengan jelas pandangannya. Putranya menghilang, tak dalam genggaman tangannya. Nayla mendengar putranya memanggil-manggil namanya. Nayla mencoba mencarinya, namun yang terlihat hanya rinaian hujan yang menari-nari.
“Nayla, cari anak kita!” terdengar teriakan suara Irgi.
Nayla lalu terbangun.
*****

          Nayla mencoba mencari jawaban atas mimpinya akhir-akhir ini. Dia membaca pada sebuah buku. Buku itu mengatakan bahwa mimpi adalah refleksi dari harapan-harapan yang kita simpan selama ini. Sedalam apa pun kita menyimpannya, namun asa itu selalu ada. Seikhlas apa pun kita menerima kenyataan yang ada, namun keinginan itu selalu membayangi hari-hari kita.
          Nayla termenung. Mencoba mencerna kalimat-kalimat itu.
          Tidak bisa dipungkiri bahwa dia kesepian. Pencapaian yang sudah dia raih dalam hidupnya ternyata tidak bisa mengisi kekosongan batinnya. Lumrah, karena dia seorang wanita biasa yang tetap ingin bahagia dalam hidupnya. Dan kebahagiaan itu dapat diraihnya dengan memiliki seorang suami yang menyayanginya dan tentu saja buah hatinya yang dapat mewarnai hari-harinya.
          Namun jika Tuhan belum berkenan memberinya jodoh, apakah dia harus meratapi terus-menerus kesedihannya? Selalu berharap jika suatu saat Irgi akan datang melamarnya,  kemudian mereka menikah dan memiliki sepasang anak yang lucu-lucu?
          Nayla menghela nafasnya berat. Disibaknya tirai yang menutupi jendela kamarnya. Pagi yang cerah. Mentari telah bersinar terang. Nayla bergegas bangun dan memulai aktivitasnya.
*****
         
Begitu tiba di kampus, Nayla memasuki ruang dosen dan duduk di meja kerjanya. Ponselnya memberikan signal ada sms yang masuk. Nayla membuka ponselnya.
Nay, nanti malam kujemput. Dandan yang cantik ya, see you later. Irgi mengajaknya makan malam di sebuah restoran Italia di daerah Menteng.
Nayla membuka laptopnya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun Nayla malah termenung di depan laptopnya. Akhir-akhir ini mereka jarang pergi besama. Walau sebelumnya, hampir setiap minggu, Irgi selalu berkunjung ke kampus atau ke rumahnya. Mereka bekerja di kampus yang berbeda. Nayla di kampus almamaternya sedangkan Irgi diterima sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri. Walau kedua kampus itu hanya berjarak beberapa kilometer saja, namun karena kesibukan, mereka jarang bertemu. Mereka jarang lunch atau dinner bersama. Namun, seperti biasa Nayla selalu menunggu kehadiran Irgi. Begitu lamakah dia menunggu, 10 tahun? Tanpa sadar Nayla menggeleng-geleng kepalanya.
          Nayla berdandan secantik mungkin. Dia mengenakan gaun malam berwarna merah marun dengan model simpel. Rambutnya yang sebahu diikat buntut kuda, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Dandanannya sederhana, namun tidak mengurangi kecantikannya.
          Dikenakan kalung bermata safir dengan warna yang senada dengan gaunnya. Terlihat kontras dengan giwang mutiara mungil berwarna putih tulang. Tas kepit hitam sepadan dengan sepatu berhak tinggi dengan warna yang sama.
          Irgi terpaku. Pandangannya tak lepas dari sosok wanita di hadapannya, membuat Nayla tersipu-sipu. Lalu mereka memesan makanan khas Italia.
          “Nayla, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir di Indonesia,” suara Irgi memecahkan kesunyian diantara mereka. Sebuah tembang lembut menemani acara makan malam  itu.
          Nayla mengangkat gelas tingginya. Diteguk sedikit isinya. Dia mencoba tenang. Ditunggunya kata-kata Irgi berikutnya.
          “Aku harus pergi. Kedutaan Inggris menawariku beasiswa S3 dengan komitmen aku harus bekerja di sana selepas kuliah. Karena itu aku mengajakmu ke sini, entah sebagai acara perpisahan kita atau…,” kali ini Irgi yang meneguk minumannya. Dipandanginya Nayla sebentar, sebelum melanjutkan kalimat berikutnya.
          “Setelah bertahun-tahun kita bersahabat, aku hanya ingin berterima kasih kepadamu, bahwa kau telah bersedia menjadi sahabatku selama ini. Bersedia mendengar ceritaku, masalahku dan menemani hari-hariku. Bertahun-tahun. Bukan waktu yang sebentar, tapi kau telah berhasil menjadi sahabatku yang paling baik, Nayla.”
          Nayla terdiam. Pandangannya terpaku pada isi gelasnya yang berwarna putih keperakan. Kalau itu racun, mungkin dia akan meneguknya sampai habis. Agar dia dapat bermimpi lagi. Bermimpi tentang taman yang indah. Bermimpi tentang seorang anak laki-laki yang tampan.
          Suara Irgi makin terdengar samar-samar. Yang terdengar kemudian adalah sebuah tembang lembut yang membuaikan telinga Nayla.

          Kali ini Nayla tersenyum. Entah pada siapa. Dan untuk apa senyuman itu. Mungkin untuk menandakan bahwa dia telah mengetahui arti mimpinya selama ini. Bahwa dia harus segera melupakan Irgi. Melupakan impiannya? Namun tiba-tiba terdengar suara Irgi yang lembut, menatapnya penuh mesra. “Nayla, maukah kau menikah denganku? Aku sadar bahwa aku tidak bisa berpisah denganmu. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku mencintaimu. Selama ini aku bodoh, sudah menyia-nyiakan kebaikan hatimu. Nayla, maafkan aku,” Irgi menggenggam tangannya erat. Nayla tertegun, mengangkat wajah cantiknya dan memandangi wajah tampan di depannya. Oh, Tuhan...apakah ini hanya mimpi? Tanpa sadar Nayla mencubit lengannya, sakiiit...
          Nayla membalas menatap wajah tampan di depannya. Tanpa kata-kata apapun, dia yakin Irgi sudah tahu jawabannya. 

Sahabat-Sahabat

 

Irgi

Aku melihat Adelia melintasi taman dan berjalan menuju pintu gerbang. Kepalanya menunduk, seakan menghitung langkah kakinya. Sudah lama aku tidak melihatnya ngumpul bareng dengan anak-anak. Mungkin karena dia sibuk dengan kegiatan magangnya di sebuah majalah remaja.
       Aku selalu memperhatikannya diam-diam. Adel yang aku lihat kini seperti bukan Adel yang aku kenal selama ini. Adel yang kukenal adalah gadis yang periang, smart, care dengan siapa saja, low profile. Tapi kini dia berubah menjadi pemurung, pendiam, acuh tak acuh dan moody. Kadang-kadang keliatan happy. Di lain waktu begitu murung. Sepertinya dia tengah menyimpan sebuah masalah. Aku berharap bukan masalah yang cukup berat. Walau aku yakin, seberat apa pun masalahnya, Adel pasti bisa mengatasinya.
       Hampir tiga tahun aku mengenalnya sebagai teman yang baik. Aku, Adel, Irma, Desi, Dipa dan Aji sekelas ketika kelas satu. Kini di kelas tiga, hanya aku dan Aji yang sekelas di kelas IPA satu sedangkan Adel dan Dipa di kelas IPA dua, Desi dan Irma di kelas IPA tiga. Walau begitu persahabatan kami tidak pernah putus. Kami masih suka jalan dan ngumpul bareng.
       Bergegas aku menyusul Adel.
       “Deeel!” teriakku dengan semangat ’45. Adel menoleh ragu-ragu. Setelah melihat, dia menunggu sampai aku datang mendekat.
       “Del, elo mo kemana?” aku lihat sepasang mata beningnya berkaca-kaca. Dadaku bergetar hebat. Aku paling tidak suka melihat dia sedih, apalagi sampai menangis! Pasti ada masalah berat yang sedang menimpanya.
       “Gue mo pulang,” jawabnya pendek.
       “Del, elo kenapa?” aku pandangi wajahnya yang putih, yang dihiasi dengan sepasang kacamata berbentuk oval dengan frame hitam metalik. Adel menunduk. Pandangannya tertuju pada sepatu ketsnya yang berwarna biru tua.
       “Gue gak pa-pa kok,” jawabnya enggan. Aku garuk rambutku  yang tidak gatal. Huh, betapa sulitnya menghadapi perempuan. Apalagi perempuan yang paling kusayangi. Benarkah begitu, Irgi? tanya batinku ragu.
       “Bener, elo gak pa-pa?” aku angkat wajah cantiknya. Pandanganku tertuju pada sepasang mata beningnya lagi. Mencoba mencari kejujuran di sana. Aku merasa dia menyimpan sesuatu.
       “Ya udah deh, kalo lo gak ada apa-apa. Gue latihan basket dulu, yah!” Adel hanya mengangguk. Aku menuju lapangan basket. Pikiranku masih tertuju pada Adel. Ada apa yah? Aku mencoba berpikir keras. Apa dia punya masalah dengan keluarganya, anak-anak yang lain atau…cowok?
       Ketika aku menoleh, sosok Adel sudah menghilang. Kuhela nafas berat.

 

Desi

Siang ini aku pulang sekolah bareng Adel. Sebelum pulang, aku ajak dulu ke Café Dixy yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Sudah lama kami tidak nongkrong di sana. Entah kemana anak-anak yang lain. Tadi aku ingin mengajak yang lain, tapi hanya ada Adelia.
       Aku melirik Adel. Akhir-akhir ini Adel jadi pendiam, wajahnya selalu terlihat murung, dia jadi moody begitu. Padahal apa sih yang kurang dalam hidupnya? Bakat menulisnya begitu mengagumkan. Dia kini sedang magang di sebuah majalah remaja, siapa tahu nanti dia jadi penulis freelance di majalah remaja tersebut. Dia sudah bisa nyari uang sendiri dari honor yang dia terima kalau tulisannya dimuat di media massa.  Atau jangan-jangan dia punya masalah dengan…cowok?
       “Elo mau pesan apa?” tanyaku begitu kami sudah sampai tempat favorit kami. Tempat duduk di sudut café, dekat jendela.
       “Gue cappucino sama muffin rasa keju,” jawab Adelia dengan pandangan tertuju pada desain interior café yang simpel tapi cozy itu.
       “Elo gak mo makan?” tanyaku begitu seorang pelayan café menyodorkan list menu café dengan desain yang unik.
       “Gue gak laper,” jawabnya pelan. “Oke, Mbak, saya pesan steak dengan kentang goreng, salad dan teh botol. Gak pake lama yah, Mbak?” aku mencoba membuat suasana menjadi ceria.
       “Elo gak berubah juga, Des. Tetep aja semangat dengan yang namanya makan. Katanya mo diet,” Adelia mulai terlihat tersenyum. Syukurlah, aku telah membuatnya sedikit hepi.
       “Ngapain sih hidup dibuat susah? Elo kan tau sendiri, Del, hidup ini udah susah, jadi jangan dibikin ribet. Bikin pusing tau!” aku sudah menikmati salad dengan topping saus thousand island kesukaanku.
       Adelia terdiam. Dia mengambil seiris kentang goreng dari piringku, kemudian dicocolnya ke saus. Dia memakan kentang itu dengan pandangan keluar jendela.
       “Elo mo gue pesanin kentang goreng atau steak?” aku sudah asyik mengiris-iris daging steak yang gendut itu. Kucocol irisan steak itu ke saus berwarna putih yang rasanya enaaak banget! Hmm, nyam-nyam-nyam!
       “Gak ah, gue lagi males makan,” jawab Adel tak bersemangat.
       “Ih, nanti badan elo tambah mungil lagi. Elo kenapa sih, Del? Lagi punya masalah? Sama siapa? Pasti sama Irgi yah? Kalian berdua tuh kayak anjing dan kucing, kalo ketemu pasti berantem,” kataku sok tahu.
       “Gue sama Irgi baik-baik aja kok. Lagian gue jarang ketemu sama dia. Dia sibuk terus sama latihan basketnya.”
       “Sama kayak elo, sibuk terus ama kegiatan elo. Sampe gue dicuekin. Gue heran deh, punya temen geng tapi berasa gak punya temen. Irma lagi asyik sama Aji. Mereka jadian aja gue gak tau. Mana gak pake acara makan-makan lagi. Dasar! Dipa gak tau lagi sibuk apa. Kalo gue ajak jalan, ada aja alasannya. Males-lah, capek-lah, ih ngeselin gak sih?”
       “Des, makannya bisa cepetan dikit gak? Kepala gue kok mendadak pusing sih?”
       Aku lihat Adelia menghabiskan minumannya. Sedangkan sepotong muffin itu cuma dicuilnya sedikit. Daripada mubazir, kuembat juga kuenya. Adelia hanya geleng kepala melihat kelakuanku.
       “Biar gue yang bayar, Des,” dia sudah mengambil dompet kulitnya yang berwarna coklat dengan aksen huruf G itu.
       “Wah, bener-bener rejeki gue hari ini. Entar pulangnya gue  anterin, Del!”
            Thank’s!” Adel hanya tersenyum. Sedikit. Duh, aku jadi pusing mikirin anak itu! Mudah-mudahan Adelia baik-baik saja. Ih, kok jadi mirip lagu ‘Ratu’ yah?

Aji

Istirahat Irgi ngajakin makan mie ayam di kantin. Aku hanya memesan es teh manis dan gado-gado.

       Tumben. Biasanya kalo istirahat dia lebih suka nongkrong di lapangan basket. Tadi Irma ngirim SMS, kalo istirahat ini dia mau ke perpustakaan, nyari bahan buat tugas laporan magangnya. Syukurlah, aku bisa ngegosip bareng Irgi.

       Tumben siang ini muka Irgi serius banget. Mana makan mie ayamnya cepet banget lagi! Wah, jangan-jangan mangkuknya bakal kemakan juga, hehehe. Selesai makan, dia curhat tentang…Adelia!

       “Gue kasian ama Adel, Ji. Akhir-akhir ini dia keliatan murung. Gue ngerasa ada sesuatu yang menimpanya. Tapi anehnya kenapa dia gak cerita sih? Kita kan udah deket, masak sih dia gak percaya kalo kita bisa bantuin dia?”

       Aku terdiam dengan kata-kata Irgi barusan. Adelia. Kenapa aku melupakan sosok yang satu itu yah? Kapan terakhir aku jalan sama dia? Yap, di acara ultah Desi di Dufan enam bulan yang lalu. Ketika aku mulai  mendekati Irma. Duh, kenapa aku setega itu yah? Di depan matanya sendiri, aku dan Irma bergandengan tangan dengan mesra. Tapi Adel seperti tidak peduli. Dia seperti melupakan kisah cinta kami yang ‘tersembunyi’ itu begitu saja. Jadi siapa yang salah, kalau aku sengaja ‘memamerkan’ kemesraanku dengan Irma di depannya?            

       “Ji, elo denger kata-kata gue gak?” Irgi memutuskan lamunanku tentang Adel. “Denger,” kataku asal aja seraya meneguk minumanku.
       “Gue pengen elo bantuin gue untuk deketin dia, Ji!”
       “What?” minumanku tersedak di tenggorokan. “Dia siapa, Gi?”
       “Yah, Adelia-lah! Siapa lagi? Wah, bokis loe, loe gak dengerin kata-kata gue!” Irgi menonjok dadaku keras. Sakit! Tapi bukan dadaku, melainkan hatiku yang tak rela Adelia jatuh ke pelukan Irgi. Apakah ini berarti aku masih mencintainya?

 

Irma

Tidak sengaja aku bertemu dengan Adel di perpustakaan. Dia kelihatan sibuk dengan buku-buku referensi untuk tugas biologi-nya. Aku menyapanya. Dia kelihatan ingin menghindar. Kukatakan bahwa aku ingin berbicara dengannya.

          “Ada apa, Ma?” tanyanya to the point. “Besok, Aji ultah. Gue pengen ngasih kejutan buat dia. Kita kerjain dia di café Dixy, yuk!”

          “Wah, kayaknya gue gak bisa, Ma. Ada rapat redaksi. Sori, yah!”

          “Bener gak bisa, apa elo sengaja menghindar dari gue sama Aji?’ kali ini aku yang to the point. Wajahnya terlihat memucat.

          “Del, sori yah, kalo gue nanya langsung sama elo! Bukan maksud gue bikin elo sedih. Tapi sebagai wanita, gue gak pengen nyakitin hati sahabatnya sendiri. Feeling gue berkata kalo sebelom gue ‘jadian’ sama Aji, kalian udah pernah ‘jadian’. Hubungan ini kalian rahasia kan? Hanya gara-gara ide yang dicetuskan Desi kalo sesama geng tidak boleh ada yang pacaran. Tapi perasaan kan gak bisa dipaksakan. Kalian jatuh cinta, lalu pacaran secara backstreet. Lalu putus, dan Aji mulai deketin gue…”

          “Ya, elo sengaja kan deketin dia supaya buat gue menderita? Kalian memang pasangan yang hebat!” Adelia membanting buku-buku itu dan pergi meninggalkanku begitu saja.

          Aku hanya bisa terpaku. 

 

Desi

Heran deh katanya anak-anak disuruh ngumpul di café Dixy buat ngasih kejutan ke Aji. Tapi Irma yang punya acara ini, malah nggak kelihatan batang hidungnya. Aji sendiri sibuk nanyain Adelia yang juga nggak datang siang ini. Kok bukan nanyain Irma sih?

          Waduh, ada apa sih?

          Irgi sendiri kayak orang linglung. Kerjaannya ngelamun terus. Ngelamunin siapa sih? Jangan-jangan Adel lagi! Beberapa hari yang lalu, Irgi sempet curhat tentang perasaannya terhadap Adel. Perasaan itu udah lama dipendamnya tapi gara-gara ide yang pernah aku buat tentang larangan pacaran diantara kami, buat Irgi nggak berani menyatakan perasaannya terhadap Adel. Tapi larangan itu kan udah aku cabut. Buktinya Aji dan Irma udah lama ‘jadian’.

          “Udah, pada pesen makan duluan gih, paling Irma telat datang,” Aji memutuskan kesunyian diantara kami.

          “Paling juga lagi sibuk cari kado. Gue pesen makanan duluan yah, laper nih! Gi, loe mo makan apa?”

          “Nas-gor dengan lemon-tea,” jawab Irgi tak bersemangat. Dipa sendiri sudah tidak sabar memesan spaghetti dengan coca cola.

          “Elo, Ji?” aku menoleh pada Aji. “Apa kita gak nungguin Adel dulu…”

          “Maksud elo, Adel sama Irma?” Irgi memotong kata-kata Aji dengan nada agak sewot.

          Waduh, ada apa sih? Kok, kayak mau ada perang sih! Wah, suasananya kok jadi gak enak kayak gini sih? Adel sama Irma kemana sih? Aku SMS aja deh!

          Adelia gak bisa datang. Ada rapat redaksi katanya. Hp-nya Irma mati, nggak bisa dihubungi. Jadilah siang itu hanya diisi makan siang bersama. Seperti biasa aku menikmati steak dan salad kesukaanku, Irgi setengah hati melahap nasi gorengnya dan Aji yang vegetarian sejati hanya memesan kentang goreng dan milkshake coklat. Dipa sendiri cuek bebek saja dengan suasana ‘dingin’ siang ini.     

          Sampai acara makan siang bersama itu usai, Irma tidak datang! Aku dan Dipa nebeng Irgi yang dijemput siang itu. Aji masih ingin di café, tangannya sibuk mengirim SMS. Aku sempat meliriknya. Ada nama Adel. Tak sengaja pandanganku bertemu dengan Irgi. Wajah cowok berkulit putih itu berubah. Seperti tidak suka dengan apa yang dikerjakan Aji.


Irgi

Siang ini aku terburu-buru ke ruangan olah raga. Ada rapat internal. Katanya Pak Gun memiliki informasi penting yang akan dibagikan ke anak-anak basket.

          Supaya cepat, aku melewati taman belakang. Tak kusangka, aku bertemu Adel dengan Aji di sana. Mereka sedang bertengkar! Hati-hati aku berjalan ke arah mereka dan bersembunyi di belakang pohon akasia. Aji mengungkit-ungkit sesuatu. Hatiku menjadi tidak tenang ketika kudengar Aji mengungkit hubungannya dengan Adel. Aku tidak menyangka bahwa mereka pernah berpacaran!

          Aji sepertinya ingin balik lagi dengan Adel. Tapi gadis itu menolak. Adel tidak ingin Irma pernah merasakan sakit hati seperti dirinya. Tapi Aji terus memaksa membuat Adel marah. Refleks, aku menarik kemeja Aji. Aji kaget, wajahnya langsung berubah melihatku. Dia tidak menyangka aku ada di sini.

          “Mau apa loe, Gi? Mau sok jagoan loe di depan Adel? Biar Adel tau elo suka ama dia, gitu?” kata-kata sinisnya membuat emosiku naik. Apalagi dia sudah menyinggung soal perasaanku terhadap Adel. Sebelum aku melayangkan tinjuan, Desi datang bersama Dipa dan Irma. Dia ‘mengangkut’ kami semua ke café Dixy dengan Starlet merahnya.

 

Desi

Sampai di café Dixy, aku langsung memesan enam gelas lemon tea dingin. Minuman itu cepat tersaji dan dapat segera ‘mendinginkan’ suasana. Semua diam membisu. Kulihat Irma berusaha menghindar dari Aji. Ugh, dasar buaya darat juga si Aji! Hihihi, kayak lagu ‘Ratu’ lagi sih?

            Kasihan Adel, berarti selama ini dia menderita dengan tingkah Aji itu. Aku tidak bisa menyalahkan Irma, toh selama ini dia tidak tahu bahwa Adel dan Aji pernah menjalin suatu hubungan spesial. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan hubungan mereka putus di tengah jalan. Aku hanya bisa mengira, mungkin Aji tidak suka dengan keaktifan Adel dengan kegiatan tulis-menulisnya. Sirik kali Aji kalau Adel lebih ngetop dari dia! 

          Tumben kali ini Adel dan Irgi berusaha menjaga jarak. Biasanya mereka berdekatan dan saling menyela. Namun kali ini, seperti ada yang tengah mereka sembunyikan. Entah apa.

          Sementara Dipa cuek bebek saja, seperti tidak merasakan apa-apa. Aku hanya tersenyum dan menggeleng-geleng kepala melihat tingkah polah mereka.

Namun biar begitu, mereka tetap sahabat-sahabatku. Aku hanya berharap Aji menyadari kesalahannya. Bisa jadi, Irma tidak akan lagi melanjutkan hubungan dengannya. Aku berdoa semoga Irgi berani mengungkapkan isi hatinya kepada Adel. Kalau perlu aku akan membantunya. Sebagai menebus rasa bersalahku gara-gara ikrar sialan itu yang membuat segalanya menjadi berantakan!

Tak sengaja aku melihat pandangan Adel dan Irgi bertemu. Wajah mereka seketika memerah. Kompak! Aku tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Bahagia. Sebahagia aku memiliki mereka. Sahabat-sahabatku.

*****

Kamis, 19 Juni 2014

Senja ini...

Mengapa senja ini berbeda dengan senja-senja yang lalu. Sejak kau pergi dan tak pernah kembali. Senja ini berwajah muram. Hanya ada sekawanan burung yang terbang tinggi meninggalkan sarangnya. Mengapa senja ini terasa sunyi senyap. Hanya ada suara angin yang menerbangkan daun-daun kering ke tanah. Daun-daun yang terjatuh ke tanah dan kemudian menghilang tanpa jejak, seperti dirimu yang pergi tanpa kabar. Mengapa senja ini berwarna gelap. Sejak matahari mundur dari peraduannya. Dan bintang enggan muncul menggantikannya. Seakan mereka tak mau berteman denganku, untuk berbagi kepedihan ini. Hanya ada rinai hujan yang turun satu persatu. Butirannya menyatu dengan air mataku yang jatuh tanpa permisi. Seakan menggambarkan betapa suramnya senja ini tanpa kehadiranmu, tanpa ada cerita yang indah lagi tentang kita....



Another My First Short-Story

INI CERPEN PERTAMA SAYA YANG LAIN BERJUDUL: TIGA TAHUN YANG LALU. DITULIS KETIKA SAYA KULIAH DAN INGIN MENGENANG MASA-MASA TERAKHIR DI SMA, SMAN 1 SINGKAWANG.
TO ALL MY BEST-FRIEND: SRI MAWARNI, NELLA, PINK-PINK, SRI HARTATI, LINDA, MECI DAN LAINNYA...KEEP OUR FRIENDSHIP YEAH...!

My First Short-Story

Ini adalah cerpen pertamaku yang berhasil dimuat di Majalah Anita tahun 1994. Cerpen ini saya ikutkan Lomba Cerpen Majalah Anita, walau tidak berhasil dimuat, namun berhasil menembus Majalah Anita, senengnya menerima honor, walau dikirim via wesel.
Honor pertama saya gunakan untuk biaya revisi PC saya yang rusak. Walau dibenerin sama temen sendiri, tetap harus bayarin makan baksonya, hehe...
Kemilau Kuning Senja, bercerita tentang seorang anak yang suka sekali menulis namun tidak disetujui ibunya. Ibunya lebih bangga dengan saudara kembarnya yang pintar di bidang akademik, selalu juara kelas. Sedangkan dia, selalu mendapatkan angka merah. Merasa tidak diberlakukan secara adil, sehingga dia menciptakan jarak bermil-mil dengan ibunya...

Rabu, 18 Juni 2014

My Cerpen



Berikut Daftar
NO JUDUL EDISI MEDIA MASSA KETERANGAN
1  Kemilau Kuning Senja Mei 1994 Anita Cemerlang
2  Rahasia Hati Riri Nov. 1994 Kawanku
Hidup Penuh Warna Feb. 1995 Anita Cemerlang Pemenang
Penghargaan LCCR
Anita XII/1994
Pelangi Tanpa Warna April 1995 Anita Cemerlang
Penyesalan Tasha April 1995 Kawanku
Irisan Tiga Hati Juni 1995 Anita Cemerlang
Cerita Cinta Juli 1995 Kawanku
Burung-Burung Beterbangan Agustus 1995 Anita Cemerlang
Denise Agustus 1995 Kawanku
10  Bahagia Tanpamu Nov. 1995 Anita Cemerlang
11  Surat Untuk Mei Des. 1995 Kawanku
12  Misteri Pantai Anyer Mei 1996 Anita Cemerlang
13  Kembang Mawar Buat Alin Juli 1996 Kawanku
14  Misteri Hutan Kecil Agustus 1996 Anita Cemerlang
15  Gerimis Pagi Hari Sept. 1996 Anita Cemerlang
16  Elegi Buat Uli Oktober 1996 Kawanku
17  File Hantu Nov. 1996 Anita Cemerlang
18  Diet Ala Ara April 1997 Kawanku
19  Si Tomboy Sisi Sept. 1997 Anita Cemerlang
20  Tiga Tahun Yang Lalu Oktober 1994 Ceria Remaja
21  Ketika Senja Memerah Nov. 1994 Ceria Remaja Cerita Utama
22  Kasmaran Ala Kiki Nov. 1994 Ceria Remaja
23  Betapa Mesra Januari 1995 Ceria Remaja
24  D i e t Maret 1995 Ceria Remaja
25  Meniti Pelangi April 1995 Ceria Remaja
26  Rahasia Hati  Juni 1995 Ceria Remaja
27  If Love Is Blind Juli 1995 Ceria Remaja
28  Kencan Buta Juli 1995 Ceria Remaja
29  First Love Never Dies Sept. 1995 Ceria Remaja
30  Musim Akan Berganti Nov. 1995 Ceria Remaja
31  Hanya Semusim Des. 1995 Ceria Remaja
32  Karena Kamu Feb. 1996 Ceria Remaja
33  Calon Cerpenis Mei 1996 Ceria Remaja
34  Bunga Mimpi Juni 1996 Ceria Remaja
35  Pemandu Wisata Juli 1996 Ceria Remaja
36  Rentang Waktu Agustus 1996 Ceria Remaja
37  Nilai-Nilai Kehidupan Sept. 1996 Ceria Remaja
38  Selamat Tinggal Masa SMA Okt. 1996 Ceria Remaja
39  Kesimpulan Yang Salah Feb. 1997 Ceria Remaja
40  Cinta Putih Mei 1997 Ceria Remaja
41  Jalan Kehidupan Nov. 1997 Ceria Remaja
42  Penuh Warna-Warni Des. 1997 Ceria Remaja
43  Jiwa-Jiwa Melayang April 1999 Ceria Remaja Cerita Utama
44  Daun-Daun Mengering Des. 1999 Ceria Remaja
45  Sahabat-Sahabat April, 2007 GADIS
46  Pacar Ketiga  Januari 2008 GADIS