Minggu, 30 November 2014

Day By Day



Hari demi hari
kita lalui bersama
dalam sebuah putaran waktu yang terasa indah
dalam bagian hidup yang terasa makin berat.
Kita bagi tawa dan tangis kita
dalam sebuah episode yang tak bisa diputar ulang
episode itu kita beri judul: Persahabatan
tumbuh dan berkembang bersama
membuat kita menghargai maknanya
bahwa bahagia dapat dinilai dalam kesederhanaan
dalam kebersamaan kita
Waktu demi waktu
kita belajar menjadi dewasa
dalam kurun waktu yang cukup singkat
karena kemudian kita menjalani
titik kehidupan kita masing-masing
dalam porsi yang berbeda
namun tetap pada satu tujuan: kebahagiaan

KENANGAN


Mengapa rindu melintas ketika kulihat hujan turun dari balik kaca jendela yang bening? Laksana petir yang menyambar-nyambar, dia seperti ingin memuntahkan isi kepalaku. Agar aku teringat kembali lembaran-lembaran yang lalu, yang sudah kuanggap lupa dan mati.
Daun-daun meliuk-liuk ditiup angin menerbangkan segala kesedihan denganmu, yang ada hanya berbagi tawa denganmu. Padahal seluruh episode itu, sebagian besar berisi tangis.
Tidak bisakah dia pergi bersama perginya hujan yang meninggalkan jejak berupa aromanya yang khas. Membuatku ingin mengisi rongga dada dengan wanginya yang selalu kurindukan.
Jejak hujan pergi itu seumpama jejak langkahmu yang lebar, meninggalkan ribuan hari di belakang,
yang kau bahkan telah lupanya namanya: sebuah kenangan

Sabtu, 29 November 2014

Pagi dan Secangkir Kopi







Cahaya mentari yang temaram membangunkanmu dari mimpi semalam.
Mimpimu berkisah tentang sebuah paket kenangan
yang telah terkirim padanya,
dan kau bahkan sudah apa lupa isinya.
Kau mencoba tersenyum,
menatap pagi barumu yang sendu.
Hujan semalam, membuat mentari enggan muncul dari peraduannya.
Warna langit sedikit kelabu, dengan kumpulan kapas bergerak lambat
bahkan burung-burung enggan terbang,
masih asyik bercengkraman di dahan pohon yang basah.
Namun, daun-daun berseri-seri oleh basah hujan semalam
meliuk-liuk ditiup angin pagi,
menebarkan keceriaanya pada kuntum-kuntum bunga
yang masih menggeliat malas.
Kamu menikmati pagi yang mendung
dengan secangkir kopi pahit kesukaanmu.
Kamu tahu, hidupmu tak pernah sempurna,
namun kamu bersyukur,
masih bisa menikmati pagi baru untukmu
dengan secangkir kopi untuk mengusir lara dalam hatimu...

Senyum Matahari




Berbahagialah, ketika kau buka kaca jendela kamarmu,
kau lihat kilauan mentari yang bersinar terang,
menyapamu bersahabat,
menyemangatimu ketika kau merasa tak berarti
dalam hidupmu, untuk sementara.
Lihatlah, dia tersenyum sumringah,
seakan mengajakmu ikut berbahagia
di pagi yang cerah ini,
walau kau merasa hidupmu terasa tak berarti.
Lompati saja kegudahan hatimu untuk sementara,
marilah menari di bawah sinarnya yang hangat
biarkan hatimu kembali berseri
nikmati pancaran kebahagiaannya...

Hujan Sore Ini





Sore ini hujan turun secara tiba-tiba. Langit yang terang mendadak berwarna kelabu, sekelam hati seorang gadis yang sedang pilu. Sementara dibalik kaca jendela, sekumpulan anak bermain riang di tengah hujan yang turun sederas air bah yang diturunkan dari langit.
Mengapa harus ada nyanyian lara, jika hujan sedang menari dengan tariannya yang indah.
Sebentar lagi ada sepotong pelangi yang akan muncul, setelah hujan lelah menari dan anak-anak itu menyudahi tawa riangnya.
Kemudian senja kelabu akan tiba, membagikan bias sinarnya untuk menyambut pergantian waktu. Masihkah duduk menunggu hujan pergi dengan kesunyian, sementara camar-camar masih bersenandung riang di tengah hujan...

Your Duty


Jika tugasmu telah selesai,
maka sekumpulan peri cantik akan menjemput
dan memberikan kepakan sayap untukmu.
Mengajakmu terbang menembus langit biru
menyentuh permukaan awan, laksana segumpulan kapas putih.
Jika kau sudah terbang tinggi,
mereka akan kehilangan kelembutan hatimu,
dan senyum ramah yang terpancar dari kebajikanmu.
Sementara kau sudah bebas, menikmati keindahan alam surga di sana
tiada lagi kepedihan, yang tinggal hanya bahagia nan abadi.
Bintang-bintang kecil akan menemani tidurmu yang lelap,
dan sinaran mentari membangunkan dari mimpimu yang indah.
Kau akan selalu dapat menikmati senjamu yang kau rindukan.
Nikmati saja, karena tugasmu sudah selesai...

Sabtu, 22 November 2014

Secangkir Kopi





Secangkir kopi ini kuhidangkan atas nama cinta,
namun mengapa kau diam saja?
Apakah aroma sudah berubah?
Atau komposisinya sudah tak lengkap lagi?
Hanya ada kopi hitam, tanpa gula.
Maaf, hanya ini yang bisa terhidang
di lantai rumah kita yang hanya beralas semen,
sembari kau kipas-kipas uap panasnya,
kutahu itu hanya pelepas kekecewaanmu,
karena tak ada lagi yang lain,
murni hanya ada secangkir kopi pahit tanpa gula...