Selasa, 29 Maret 2016

A HEART'S JOURNEY : MENUJU RELUNG HATI



Sinopsis Novel:
A Heart’s Journey: Menuju Relung Hati

Ketika kamu mencoba menghindar, mengapa pesonanya begitu kuat mengikatmu.
Kamu tidak bisa berlari atau bersembunyi dari bayangannya yang kerap menguasaimu setiap saat.
Adelia sadar, seseorang telah membawa hatinya entah kemana. Ketika sebuah perpisahan membuat mereka berjalan pada sebuah jalan yang sunyi.
Namun pada akhirnya sebuah garis hidup yang yang membawa mereka memasuki sebuah relung hati, setelah menempuh perjalanan panjang dan berliku.

Dan Fey baru menyadari bahwa relung hatinya hanya dapat terisi oleh Adelia.


BAB 2
SESUATU BERNAMA CINTA

September 2002
Feyza

Kami tengah tiduran di kamarku seraya ditemani lagu-lagu pop lama. Sebetulnya ini CD punya Kak Mela, yang kuambil dari kamarnya. Aku lihat ada sebuah lagu yang berjudul ‘September Ceria’, rasanya pas mewakili perasaanku saat ini.
            “Bah, kenapa lagu-lagu kau mellow kali, teman!” Bastian membuka matanya sedikit. Baru ‘ngeh’ rupanya dia. Sedari tadi matanya sudah terpejam setelah perutnya kekenyangan, setelah makan siang gratis di rumahku.
            “Biarin...kau tidur sajalah!”
            Kupandangi langit-langit kamar yang dihiasi paper wall bergambar bentuk-bentuk bangunan keajaiban dunia. Namun mengapa wajah itu muncul secara tiba-tiba. Sudah kukatakan, masih kalah cantik dengan jejeran primadona di sekolahku. Termasuk Angel.
            Namun mengapa, gadis itu sudah membuatku tidak bisa tidur nyenyak? Seakan wajah lembutnya dan kemanisan sikapnya sudah membuat organ-organ di tubuhku tidak berfungsi secara maksimal.
            Kulempar bola basket mungil ke ring basket di sudut kamar. Masuk! Kegaduhan yang membuat Bastian terbangun.
            “Ada apa dengan kau, teman? Gelisah kali kulihat!” Bastian bangkit menuju kulkas mini. Diambilnya dua kaleng coke.
            “Bas, menurutmu...antara dua anak baru itu, mana yang paling menarik?”
            Bastian bengong. Diberikannya sekaleng untukku. Langsung kubuka dan kuteguk seperti kehausan. Dia memandangku yang tidak biasanya siang ini. Seperti cacing kepanasan yang tidak tenang menikmati istirahatnya.
            “Jelas Angel-lah. Angel itu kan blasteran. Ternyata di Jakarta dia foto model. Tapi Adelia oke juga. Anaknya baik, pintar dan dia itu cerpenis remaja, keren! Karyanya udah bejibun banyaknya,” Bastian menikmati coke-nya.
            “Angel dan Adelia, bagai bumi dan langit. Angel borju, Adel sederhana. Simpel. Namun kerendahan hatinya telah mengangkat ketinggian budinya,” Bastian berfilsafat.
            “Tumben kali omongan kau. Sok bermutu, Bah!” kulirik dengan wajah tak rela.
            “Jadi siapa yang kau taksir, Angel atau Adel?”
            Bastian cengar-cengir.
            “Kalau boleh milih, aku Adel ajalah. Kalau kau suka Angel, kau ambillah!”
            Aku tak menjawab, malah beranjak ke kamar mandi. Kubasahi tubuhku. Berharap bayangannya lenyap. Kudengar Bastian pamit pulang. Namun, aku hanya menjawab sambil lalu.
Bayangan itu semakin kuat mengikatku! Kulempar shower ke bak mandi dengan kesal.


BAB 4
BERPISAH

Februari 2003
Adelia

Aku tahu, hubungan ini pasti akan berakhir. Entahlah, kami merasa terlalu muda untuk merancang masa depan bersama. Kami masih memiliki sebuah mimpi yang butuh waktu yang cukup panjang untuk mewujudkan.
            Pada akhirnya, orang tuaku mengetahui hubungan ini. Para tetangga depan kompleks yang curiga terhadap laki-laki muda berseragam SMA atau berbusana bebas selalu setia menungguku di depan sebuah warung. Salah satu dari mereka mengabarkannya kepada Mama dan terdengar juga oleh Papa.
            Semalaman aku diadili, persis seorang terdakwa yang melakukan sebuah kesalahan besar.
            Akhirnya, aku berkata jujur pada mereka. Papa tentu murka, karena dianggapnya sudah mencoreng nama baiknya, karena melakukan hubungan sembunyi-sembunyi dengan seorang laki-laki.
            “Mau simpan dimana muka Papa, Adel. Kau ini anak tentara, harusnya kau bisa memberikan contoh yang baik sebagai anak tentara. Ini kau malah memalukan nama Papa dan Mama. Buat apa kau dijemput dan diantar depan warung, seperti cewek tidak benar saja kau...”
            “Pa, ini atas kehendak Adel. Adel yang tidak mau membawanya ke rumah ini, karena Adel tahu, Papa dan Mama tidak akan setuju...”
            “Iya-lah tidak setuju! Kau sebentar lagi mau ujian akhir, bukannya belajar yang benar, malah pacaran!”
            Blam! Papa murka dan membanting pintu kamarnya. Aku hanya tertunduk tak berdaya. Mama selalu mengelus rambutku jika dilihatnya aku sedih atau galau.
            “Kamu sabar ya, Del. Kamu kan tahu sendiri, gimana Papamu itu. Perkataannya tidak bisa dibantah. Kamu masih muda, Del. Jalanmu masih panjang. Banyak yang bisa kamu raih. Katanya kamu mau jadi jurnalis, mau jadi penulis juga. Iya kan?” Suara Mama terdengar lembut. Aku hanya mengangguk.
            “Sekarang kamu fokus dengan studimu. Mumpung masih ada waktu untuk mempersiapkan ujian akhir dan persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Mama hanya berdoa, semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik.”
            Aku tahu, Mama memang tidak menyuruhku untuk memutuskan hubungan dengan Fey. Namun dari kata-katanya barusan, aku tahu apa yang tersirat dari nasehatnya itu.

*****

BUKU BARU: KUMCER KE-5



Buku Kumpulan Cerpen berjudul “Sepotong Kenangan”
Berisi 10 cerpen dengan segmen wanita dewasa mengisahkan permasalahan wanita urban yang cukup kompleks. KDRT, menjadi wanita kedua dalam sebuah pernikahan, terjebak credit-card, gangguan kejiwaan dan lain-lain. Dimana semua wanita digambarkan sebagai wanita yang tangguh, yang mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan baik.
Buku Kumcer ini berjudul ‘Sepotong Kenangan’ yang mengingatkan Dee tentang seseorang yang menarik hatinya.

Cerpen-cerpen yang ada sebagai berikut:
1. AROMA HUJA
2. BIANGLALA
3. DUA LELAKI
4. ENGGAR & TALITHA
5. KEMUNING

6. LUKA KINAN
7. RAHASIA
8. REMANG SENJA
9. SEPOTONG KENANGAN
10. SURAT DARI NAYA



BIODATA PENULIS
Penulis bernama asli Dian Novianti yang lebih dikenal dengan nama pena Dheean Reean. Selain penulis, berprofesi pula sebagai dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC).
Aktif di sosial media dengan akun: Facebook: dheean.reean. Blog: dearrian2001.blogspot.com & Happymom.blogspot.com
Mulai terjun di dunia penulisan sejak tahun 1993 – 1997 dan kembali aktif menulis sejak tahun 2015. Selama aktif menulis, sudah ‘menelurkan’  48 karya berupa cerpen pendek bersegmen remaja yang dimuat di media Kawanku, Anita Cemerlang, Ceria Remaja dan majalah GADIS.
Tahun 1995 saya pernah memenangkan Lomba Penulisan Cerpen yang diadakan Majalah Anita Cemerlang yang berjudul : “Hidup Penuh Warna”.

Sudah menghasilkan sebuah novel berjudul “Bintang Kecil di Langit Biru”, sebuah novel berjudul “A Heart’s Journey” dan 4 (empat) buah Buku Kumpulan Cerpen Remaja dan Wanita Urban dan sebuah novel kolaborasi terbitan Elexmedia berjudul “Eternal Flame”.

*****

Minggu, 07 Februari 2016

Proses Kreatif Si Anak

Proses Kreatif adalah proses berpikir untuk menciptakan atau mengkreasikan sesuatu dengan kemampuan indera yang kita miliki.
Bagaimana cara membiasakan mereka mengalami proses kreatif tersebut. Sejak dini mereka sudah diarahkan untuk mengikuti kegiatan ekskul.Kegiatan ekskul bagi anak buat saya sama pentingnya dengan menyuruh mereka sekolah. Karena dengan memiliki kegiatan ekskul mereka dapat merasakan yang namanya proses kreatif. Untuk saat ini proses kreatif penting. Di jaman yang serba sulit dan kompetitif yang sangat ketat, kita dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif.Kegiatan ekskul dapat disesuaikan dengan minat dan bakat si anak. Contohnya my son, dia lebih suka moto daripada nulis kayak emaknya. Boro-boro nulis, bacanya juga nggak terlalu suka, hehe. Kita memang tidak bisa memaksakan. Karena kalo dipaksa, takut anak jadi stress dan emaknya juga ikutan stress juga kan? hehe...
Jadi ingat jaman dahulu kala. Waktu bo-nyok (bokap-nyokap) memasukkan kami kakak-beradik yang manis-manis ini, colek Arie Skripsanti ke sebuah sanggar tari di daerah Tulodong Bawah. Kalo doski luwes banget menarikan segala macam tarian: Jawa, Bali dan Sumatera (eh, belom sampe ke sana sih levelnya, hehe..) sedangkan kakaknya kakuuu. Cuman jadi senyuman pelatihnya aja. Jadi kalo yang lain bisa ikutan tampil, saya dengan sendirinya 'tereliminasi' hehe...
Akhirnya bo-nyok masukin saya ke Bina Vokalia milik alm. Pranajaya di daerah Radio Dalam ketika saya kelas 5 SD. Nyokap nganterin naik bajaj kalo nganter atau pulang les, sementara peserta yang lain, berboil. Berderet mobil memenuhi les vokal tersebut. Bapak Pranajaya sendiri yang turun tangan melatih vokal 'calon-calon penyanyi' tersebut, hehe...Diriingi langsung dengan permainan piano, saya yang emang suka nyanyi tapi buta not nada, agak kesusahan ketika kami 'dites' untuk ikutan acara mereka di sebuah program rutin di TVRI. Dibantu teman-teman les saya, akhirnya saya 'lulus' tes not nada tersebut.
Ketika tahu saya akan masuk TV, kehebohan terjadi di kampung saya, hehe...apalagi kalo bukan ibu saya yang udah koar-koar kalo anaknya mo masuk TV, hehe...Mungkin ini pengalaman saya masuk TV pertama dan terakhir kalinya dalam hidup...
Mungkin jika pada saat itu sudah ada pelatihan penulisan untuk anak-anak SD saya akan minta pada bo-nyok untuk ikutan les. Sayang waktu itu jamannya les tari, les vokal, les musik. Tapi saya juga nggak tau bakat saya apa karena belom ada psikotest di sekolah-sekolah dasar atau menengah pada saat itu.
Jadi ketika saat ini jaman sudah merubah. Sudah semakin modern dan mengglobalisasi, mungkin sudah saatnya kita menuntun anak-anak kita untuk ikut merasakan sebuah proses kreatif sejak dari dini. Bukan saatnya lagi angka atau nilai menjadi sebuah barometer kesuksesan hidup seorang anak manusia.
Jadi ingat jaman dahulu kala. Waktu bo-nyok (bokap-nyokap) memasukkan kami kakak-beradik yang manis-manis ini, colek Arie Skripsanti ke sebuah sanggar tari di daerah Tulodong Bawah. Kalo doski luwes banget menarikan segala macam tarian: Jawa, Bali dan Sumatera (eh, belom sampe ke sana sih levelnya, hehe..) sedangkan kakaknya kakuuu. Cuman jadi senyuman pelatihnya aja. Jadi kalo yang lain bisa ikutan tampil, saya dengan sendirinya 'tereliminasi' hehe...Akhirnya bo-nyok masukin saya ke Bina Vokalia milik alm. Pranajaya di daerah Radio Dalam ketika saya kelas 5 SD. Nyokap nganterin naik bajaj kalo nganter atau pulang les, sementara peserta yang lain, berboil. Berderet mobil memenuhi les vokal tersebut. Bapak Pranajaya sendiri yang turun tangan melatih vokal 'calon-calon penyanyi' tersebut, hehe...Diriingi langsung dengan permainan piano, saya yang emang suka nyanyi tapi buta not nada, agak kesusahan ketika kami 'dites' untuk ikutan acara mereka di sebuah program rutin di TVRI. Dibantu teman-teman les saya, akhirnya saya 'lulus' tes not nada tersebut. Ketika tahu saya akan masuk TV, kehebohan terjadi di kampung saya, hehe...apalagi kalo bukan ibu saya yang udah koar-koar kalo anaknya mo masuk TV, hehe...Mungkin ini pengalaman saya masuk TV pertama dan terakhir kalinya dalam hidup...Mungkin jika pada saat itu sudah ada pelatihan penulisan untuk anak-anak SD saya akan minta pada bo-nyok untuk ikutan les. Sayang waktu itu jamannya les tari, les vokal, les musik. Tapi saya juga nggak tau bakat saya apa karena belom ada psikotest di sekolah-sekolah dasar atau menengah pada saat itu.Jadi ketika saat ini jaman sudah merubah. Sudah semakin modern dan mengglobalisasi, mungkin sudah saatnya kita menuntun anak-anak kita untuk ikut merasakan sebuah proses kreatif sejak dari dini. Bukan saatnya lagi angka atau nilai menjadi sebuah barometer kesuksesan hidup seorang anak manusia.Jadi ingat jaman dahulu kala. Waktu bo-nyok (bokap-nyokap) memasukkan kami kakak-beradik yang manis-manis ini, colek Arie Skripsanti ke sebuah sanggar tari di daerah Tulodong Bawah. Kalo doski luwes banget menarikan segala macam tarian: Jawa, Bali dan Sumatera (eh, belom sampe ke sana sih levelnya, hehe..) sedangkan kakaknya kakuuu. Cuman jadi senyuman pelatihnya aja. Jadi kalo yang lain bisa ikutan tampil, saya dengan sendirinya 'tereliminasi' hehe...Akhirnya bo-nyok masukin saya ke Bina Vokalia milik alm. Pranajaya di daerah Radio Dalam ketika saya kelas 5 SD. Nyokap nganterin naik bajaj kalo nganter atau pulang les, sementara peserta yang lain, berboil. Berderet mobil memenuhi les vokal tersebut. Bapak Pranajaya sendiri yang turun tangan melatih vokal 'calon-calon penyanyi' tersebut, hehe...Diriingi langsung dengan permainan piano, saya yang emang suka nyanyi tapi buta not nada, agak kesusahan ketika kami 'dites' untuk ikutan acara mereka di sebuah program rutin di TVRI. Dibantu teman-teman les saya, akhirnya saya 'lulus' tes not nada tersebut. Ketika tahu saya akan masuk TV, kehebohan terjadi di kampung saya, hehe...apalagi kalo bukan ibu saya yang udah koar-koar kalo anaknya mo masuk TV, hehe...Mungkin ini pengalaman saya masuk TV pertama dan terakhir kalinya dalam hidup...Mungkin jika pada saat itu sudah ada pelatihan penulisan untuk anak-anak SD saya akan minta pada bo-nyok untuk ikutan les. Sayang waktu itu jamannya les tari, les vokal, les musik. Tapi saya juga nggak tau bakat saya apa karena belom ada psikotest di sekolah-sekolah dasar atau menengah pada saat itu.Jadi ketika saat ini jaman sudah merubah. Sudah semakin modern dan mengglobalisasi, mungkin sudah saatnya kita menuntun anak-anak kita untuk ikut merasakan sebuah proses kreatif sejak dari dini. Bukan saatnya lagi angka atau nilai menjadi sebuah barometer kesuksesan hidup seorang anak manusia.Jadi ingat jaman dahulu kala. Waktu bo-nyok (bokap-nyokap) memasukkan kami kakak-beradik yang manis-manis ini, colek Arie Skripsanti ke sebuah sanggar tari di daerah Tulodong Bawah. Kalo doski luwes banget menarikan segala macam tarian: Jawa, Bali dan Sumatera (eh, belom sampe ke sana sih levelnya, hehe..) sedangkan kakaknya kakuuu. Cuman jadi senyuman pelatihnya aja. Jadi kalo yang lain bisa ikutan tampil, saya dengan sendirinya 'tereliminasi' hehe...Akhirnya bo-nyok masukin saya ke Bina Vokalia milik alm. Pranajaya di daerah Radio Dalam ketika saya kelas 5 SD. Nyokap nganterin naik bajaj kalo nganter atau pulang les, sementara peserta yang lain, berboil. Berderet mobil memenuhi les vokal tersebut. Bapak Pranajaya sendiri yang turun tangan melatih vokal 'calon-calon penyanyi' tersebut, hehe...Diriingi langsung dengan permainan piano, saya yang emang suka nyanyi tapi buta not nada, agak kesusahan ketika kami 'dites' untuk ikutan acara mereka di sebuah program rutin di TVRI. Dibantu teman-teman les saya, akhirnya saya 'lulus' tes not nada tersebut. Ketika tahu saya akan masuk TV, kehebohan terjadi di kampung saya, hehe...apalagi kalo bukan ibu saya yang udah koar-koar kalo anaknya mo masuk TV, hehe...Mungkin ini pengalaman saya masuk TV pertama dan terakhir kalinya dalam hidup...Mungkin jika pada saat itu sudah ada pelatihan penulisan untuk anak-anak SD saya akan minta pada bo-nyok untuk ikutan les. Sayang waktu itu jamannya les tari, les vokal, les musik. Tapi saya juga nggak tau bakat saya apa karena belom ada psikotest di sekolah-sekolah dasar atau menengah pada saat itu.Jadi ketika saat ini jaman sudah merubah. Sudah semakin modern dan mengglobalisasi, mungkin sudah saatnya kita menuntun anak-anak kita untuk ikut merasakan sebuah proses kreatif sejak dari dini. Bukan saatnya lagi angka atau nilai menjadi sebuah barometer kesuksesan hidup seorang anak manusia.

Jadi untuk adalah beberapa hal yang harus diperhatikan kita selaku orang tua dalam menuntun proses kreatif sang anak:1. kenali bakat dan minat anak, karena setiap anak memiliki bakat dan minat yang berbeda. Jangan memaksakan mereka mengikuti trend yang sedang in. Misalhnya sekarang sedang mem-booming menjadi penulis cilik, maka kita memaksakan mereka untuk ikutan pelatihan penulisan sedangkan mereka lebih suka fotografi misalnya.2. pilih pelatihan yang kompeten sesuai dengan minat dan bakat si anak tersebut. Pelatihan bisa diikuti dengan berbagai cara. Ada yang online atau offline, ada yang gratis dan yang pra bayar. Sesuaikan dengan kemampuan bugdet Anda. Namun jangan juga Anda pelit dalam menyediakan anggaran tersebut. Hitung-hitung sebagai investasi buat mereka. Namun juga jangan memaksakan di luar batas kemampuan Anda, hehe..3. ikuti prosesnya sebagai sesuatu yang alamiah dan menarik untuk diikuti. Jangan memaksa ketika si anak sudah mengikuti proses tersebut, si anak harus mendapatkan penghargaan lomba atau menghasilkan 'sesuatu' dari proses tersebut. Ikuti saja prosesnya dengan 'cool'.

Demikian sharing super emak ini, mudah-mudahan bermanfaat...

Selasa, 22 Desember 2015

BEHIND THE SCENE "ETERNAL FLAME"




Kami dan hasil karya kami.

Bermula dari perlombaan penulisan outline yang diadakan oleh Elex Media, di bulan Januari 2015. Saya yang belum 'ngeh' membuat outline seperti apa, akhirnya gooling. Syaratnya outline tersebut harus menggambarkan kisah yang romantis. Walaah, harus menggali segala ingatan tentang semua kenangan yang romantis, hehe. Akhirnya nekad ikutan di deadline yang sudah mepet Namun Alhamdulillah, dipilihlah 50 outline yang dianggap baik untuk mengikuti Workshop Penulisan.. Dari 50 peserta terpilihlah 3 kelompok outline terbaik dengan tema playlist dan setting sebuah kota yang ada di Indonesia atau luar negeri.


Dan inilah kami, 5 penulis cewek keceh itu dengan karya kami yang akan lauching tanggal 30 November 2015.Dan inilah kami, 5 penulis cewek keceh itu dengan karya kami yang akan lauching tanggal 30 November 2015.
Mungkin takdir yang mempertemukan kami dalam sebuah event penulisan. Mungkin saat itu, semesta sedang berbahagia, sehingga kami bisa masuk dalam kelompok dua dan menyusun outline bersama.Tidak saling kenal, namun harus memberikan pendapat untuk 'warna' materi yang sama. Tentu sulit, karena kami memiliki gaya penulisan yang berbeda.Tidak menyangka, kami menjadi salah satu kelompok yang terbaik. Mungkin pada awalnya kami tidak berharap, kami takut tidak memiliki perfom yang terbaik.Namun, lagi-lagi takdir berkata lain. Kami hanya diberi waktu beberapa bulan untuk dapat menghasilkan sebuah karya yang terbaik. Tiga orang berada di Jakarta, satu orang di Cirebon dan satunya berada di Semarang. Kami mengolah masing-masing satu tokoh yang harus bisa menyatu dengan tokoh yang lain.Untunglah, ada sebuah teknologi yang mendukung 'kerja sama' kami melalui online. Namun tetap, kami masih 'kaku' menyatukan satu warna dengan gaya penulisan yang masing-masing berbeda.Gesekan tentu saja ada, namun dengan cool gaya ketua genk yang keren Mba Kristina Yovita sekaligus merangkap editor yang habis-habisan mengupas naskah masing-masing anak buahnya. Buatku ini amazing, bisa berkolaborasi dengan para penulis cewek yang keren. Bisa banyak belajar mengenai ide, EYD, mengolah bahan sampai memberikan polesan yang keren untuk sebuah cerita, buatku adalah sebuah pengalaman yang luar biasa.Namun, 'perjuangan tidak hanya sampai di sini, bagaimana ketika naskah sudah jadi sesuai dengan target yang ditetapkan mba editor yang keceh, mba Afrianty Pramika Pardede. Begitu dipelajari dan dianalisa beliau, tetap harus dirombak sana-sini. Sebagai penulis kudu tahan banting, tidak boleh hopelessly. Karena toh itu demi kebaikan bersama, demi menghasilkan sebuah karya yang keren.

Dan yang paling penting bagaimana seorang penulis dapat menjual karyanya dengan baik. Dan ini tugas terberat kami. merancang strategi promo dan pemasaran dengan optimal, hehe...Beda dengan jaman dulu saya sebagai penulis, nggak kepikiran kudu memiliki keahlian dalam bidang marketing ini.Hayuk, kita syukuran Mba Kristina Yovita, Naya Corath, Nurisya Febrianti dan Susi Lestari, merayakan kesuksesan kita dalam 'mengesampingkan' ego masing-masing sebagai penulis dalam 'menyatukan sebuah 'warna' yang indah, kebersamaan dan persahabatan yang baru.


Eternal Flame ini menceritakan tentang 3 cowok yang lagi baper karena cinta.
Edo : pemain biola, ditinggal mati oleh ceweknya, nggak bisa move on selama berbulan-bulan, sampe jadi pengamen di stasiun.

 
Dimas : eksekutif muda yang udah pacaran lama sama cewek beda suku. Ibunya menentang hubungan itu karna ceweknya itu nggak mau jadi ibu rumah tangga.

Satria : pengawal kereta api, jatuh cinta sama mahasiswi yang tiap hari dia liat di kereta api, tapi nggak berani ngungkapin cinta. 
Mereka punya masalah masing-masing tetapi akhirnya saling berhubungan. saling terkait satu sama lainnya. 

Bagaimana Edo akhirnya bisa move on? Karna hatinya udah nggak mau tau lagi tentang cinta.
Bagaimana Dimas menyelesaikan masalahnya? Kedua wanita itu, ibu dan ceweknya, sama berharganya bagi dia. Dimas nggak akan pernah mau melukai salah satu dari mereka. 
Bagaimana Satria mengakhiri galaunya? Di saat dia punya keberanian buat nyatain cinta, cewek incerannya menolak cintanya. Duh! Mundurkah Satria?
Semua jawabannya ada di novel Eternal Flame ini. Jalan keluar yang ditempuh oleh 3 orang itu benar-benar nggak terduga.

*****

Rabu, 16 Desember 2015

Di Balik Layar KumCer Be My Valentine


Sebagai penulis yang sudah menghasilkan beberapa karya berupa cerpen remaja yang semuanya pernah dimuat di majalah Kawanku era tahun 90-an.
Ketika itu bentuk majalah Kawanku belum se-minimalis sekarang. Dan tahun-tahun 90-an satu edisi majalah bisa memuat beberapa cerpen sekaligus. Bandingkan sekarang, yang 'lapaknya' makin berkurang untuk ruang fiksi.



Alhamdulillah, saya selalu mengumpulkan karya-karya saya yang pernah dimuat itu dalam bentuk Kliping Kumpulan Cerpen. Kemudian timbul ide, bagaimana jika saya bukukan saja 10 buah cerpen saya yang pernah dimuat di Kawanku. Ke-10 cerpen tersebut adalah:
1. Be My Valentine sebagai Cerita Utama
2. Kembang Mawar Buat Alin
3. Denise
4. Elegi Buat Uli
5. Diet Ala Ara
6. File Hantu (satu-satunya yang dimuat di majalah Anita)
7. Penyesalan Tasya
8. Surat Dari Ade
9. Cerita Cinta
10. Rahasia hati Riri


Selasa, 29 September 2015

Aktivitas Sastra dan Komunitas Penulisan



AKTIVITAS SASTRA &
KOMUNITAS PENULISAN

Nama saya adalah Dian Novianti. Terkadang menggunakan nama pena: Dheean Reean.
Saya mulai terjun di dunia penulisan sejak tahun 1993 – 1997 dan kemudian vakum karena kesibukan kerja. Sejak tahun 2014, saya ingin kembali ‘mengasah’ kemampuan menulis saya. Saat ini buku saya yang sudah terbit adalah 2 buku bahan ajar kuliah yaitu: Analisa & Perancangan Sistem Informasi Pendekatan Terstruktur dan Perancangan Sistem Informasi Berorientasi Objek. Untuk buku fiksi sudah menerbitkan 1 novel dan 4 (empat) buah Buku Kumpulan Cerpen.
Selama saya aktif menulis, saya sudah ‘menelurkan’  48 karya. Tahun 1995 saya pernah memenangkan Lomba Penulisan Cerpen yang diadakan Majalah Anita Cemerlang yang berjudul : “Hidup Penuh Warna”.
Saat ini saya sedang menulis novel solo dan novel berantai dengan beberapa penulis wanita juga menjadi kontributor pada buku Kumcer bertema romantis yang diikuti 78 penulis wanita. Dan juga sebuah novel terbitan Elexmedia bersama 4 teman penulis wanita yang berjudul: Eternal Flame yang masih proses penerbitan.

          Komunitas Penulisan yang pernah saya ikuti adalah pada tahun 2013 yaitu “Ibu-Ibu Doyan Nulis” dimana merupakan komunitas ibu-ibu yang suka menulis dan berkarya dalam dunia menulis dan tahun 2013 saya mengikuti komunitas “Menulis Keren” mengenai komunitas penulisan cerpen koran dan cerpen majalag dan tahun 2014 saya mengikuti WOMEN SCRIPT COMMUNITY dan bertugas sebagai admin yang menangani program Writers To Writers yang membahas mengenai konstribusi tulisan member WSC yang akan dibahas bersama dalam forum.

Senin, 07 September 2015

RUANG KOSONG





Ruang kosong itu seumpama senyum yang diikat oleh kesedihan. Tak terlihat, namun bisa dirasakan.
Seumpama sebuah jejak tak bertuan namun tatapannya masih membekas di hati.
Dia seperti mengisi sudut~sudut tak berpenghuni.
Walau terasa hampa, dia tak bisa hilang.
Terus mengikuti seperti udara yang terus mengalir.
Seperti kecupan embun pada daun,
walau sekejap namun telah membuatnya berseri,
walau setelah itu terasa senyap...dan kelam.