Jumat, 04 Juli 2014

Menata Ulang Mimpi



Kita pernah mengukir mimpi-mimpi di atas bentangan pasir putih. Mimpi tentang buruh tani, tukang becak, kuli, rakyat kecil...Dulu, katamu kau ingin menjadi dokter, agar bisa mengobati mereka secara gratis.
Ketika kau tanya, mimpiku apa...aku hanya terdiam. Aku tidak punya mimpi setinggi dirimu, aku hanya ingin merangkai kata-kata, kata-kata yang bermakna, yang dapat bermanfaat untuk orang banyak.
Mimpi yang sederhana, katamu...Sesederhana bagaimana menghargai perbedaan, cinta kasih sesama manusia, toleransi,..Sederhana bagaimana menghargai & mensyukuri hidup...
Mungkin, untuk saat ini mimpimu telah terwujud, namun apakah kau sudah melaksanakan baktimu buat negara, buat rakyat kecil...?
Mungkin hanya kau yang tahu jawabannya, sementara bumi semakin hiruk-pikuk untuk sebuah jabatan, pencitraan, untuk sebuah egois. Mungkin aku terlalu naif dalam dunia yang semakin gemerlap, sementara kau semakin tinggi meraih mimpimu..apakah duniamu juga gemerlap oleh kekuasaan? Semoga kau masih menyimpan mimpi-mimpi mulia itu.
Terdiam dalam kesunyian, menata ulang mimpi-mimpi itu..

0 komentar:

Posting Komentar